Teknik Budi Daya Oyong (Gambas)

Teknik Budi Daya Oyong (Gambas)

Oyong (gambas), komoditas sayur buah ini mungkin masih terasa asing bagi sebagian orang. Sayur yang berbentuk mirip seperti belimbing ini memiliki kulit yang sedikit kasar, oyong kaya akan vitamin dan memiliki khasiat untuk menambah stamina tubuh. Tanaman yang cukup mudah dibudidayakan ini mungkin masih jarang ditemukan di pasar modern tapi sudah lumayan mudah ditemukan di pasar tradisional. Nah, masih minimnya pasokan dari petani menjadikan peluang bisnis oyong masih terbuka lebar untuk para petani sayur.

Syarat tumbuh

Tanaman oyong merupakan tanaman tahunan dan tumbuh di dataran rendah hingga tinggi, selain itu dapat juga ditanam di ladang atau di bekas sawah. Tanaman ini termasuk tanaman merambat. Tanaman oyong memerlukan iklim yang kering, ketersediaan air yang cukup sepanjang musim budidaya.

Lingkungan ideal untuk tanaman agar bertumbuh optimal adalah di daerah dengan suhu 18-24⁰C dan kelembaban 50-60%. Tanaman oyong toleran terhadap berbagai jenis tanah. Untuk mendapatkan hasil yang optimal juga tanaman ini membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, beraerasi dan berdrainase baik, serta memiliki pH 5,5-6,8. Tanah yang paling ideal untuk budidaya oyong adalah jenis tanah liat berpasir, misalnya tanah latosol, aluvial, dan podsolik merah kuning (PMK).

Varietas

Varietas yang dianjurkan adalah San-C, Ping-Ann, Miriam, San-C No. 2 (asal Known You Seed, Taiwan), dan Samson. Kebutuhan benih tiap Hektare berkisar 5-10 kg.

Pembuatan benih

Untuk menghasilkan benih sendiri dapat dilakukan dengan memanen oyong kurang lebih dari 110 hari setelah tanam (hst) di dataran tinggi ditandai dengan buah yang memiliki warna cokelat, kering dan biji berwarna hitam. Oyong dipotong melintang, diambil bijinya, dibungkus kertas, dan dikeringkan hingga kadar air 8%. Benih (biji) disimpan dalam toples yang tertutup rapat yang diisi pengering seperti arang atau abu sekam.

Persemaian

Biji oyong dapat ditanam langsung di lahan dengan menggunakan para-para atau teralis untuk tanaman merambat. Jika propagasi tidak siap dan terbatasnya pasokan benih, biji dapat ditanam di polybag hitam dengan diameter 5 cm, 2 biji/polybag. Media yang digunakan untuk pembenihan adalah pupuk kandang dicampur dengan tanah dengan perbandingan 1:1. Bibit dapat dipindahkan ke lahan pada usia 15-21 hari atau setelah memiliki 3-5 helai daun.

Pengolahan tanah

1. Sistem lubang tanam

Tanah dicangkul sampai gembur. Kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 200 cm x 60 cm atau 200 cm x 100 cm. Masukkan pupuk kandang 1-2 kg/lubang tanam.

2. Sistem bedengan

Tanah dicangkul hingga gembur, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 250 cm, panjang disesuaikan dengan keadaan lahan, tinggi 30 cm, dan jarak antarbedengan 60 cm. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 200 x 60 cm atau 200 x 100 cm kemudian masukkan pupuk kandang 1-2/lubang tanam.

3. Sistem guludan

Tanah dicangkul sampai gembur, buat guludan selebar 60 cm, tinggi 30 cm dan panjang disesuaikan dengan keadaan lahan dengan jarak antarguludan kurang lebih 140 cm, kemudian masukkan pupuk kandang 1-2 kg/lubang tanam.

Penanaman dan pemupukan

Benih ditanam secara langsung atau melalui persemaian. Apabila ditanam secara langsung, masukkan biji oyong sebanyak 2-3 butir tiap lubang tanam, kemudian tutup dengan tanah setebal 1-1,5 cm.

Selama satu musim tanam, lakukan pemupukan dengan pupuk buatan 300 kg NPK (16:16:16) + 100 kg urea per Hektare. Pemupukan dilakukan pada saat tanam, 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam dengan dosis masing-masing seperlima takaran dari total dosis yang dianjurkan.

Pemasangan rambatan atau para-para dilakukan saat tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam. Para-para bisa berbentuk huruf A, setengah lengkung, lengkungan atau persegi panjang.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman oyong yang biasa dilakukan adalah pemangkasan daun apabila daun terlalu rimbun, penyiraman dan penyiangan.

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT)

OPT penting yang menyerang tanaman oyong antara lain kumbang daun, ulat grayak, ulat tanah, lalat buah, busuk daun, embun tepung, antraknosa, layu bakteri, dan virus mosaic. Pengendalian OPT dilakukan tergantung jenis OPT yang menyerang.

Apabila harus menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang relatif aman sesuai rekomendasi dan penggunaan pestisida hendaknya tepat dalam pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu aplikasi, interval aplikasi serta cara aplikasinya.

Panen dan pascapanen

Panen oyong dapat dilakukan berulang. Panen pertama dilakukan saat tanaman berumur 40-70 hari setelah tanam. Karakteristik umum buah siap panen yang meliputi ukuran buah maksimum, tidak terlalu tua, tidak berserat, dan mudah patah.

Produksi oyong setiap tanaman mencapai 15-20 buah dan 8-12 ton per Hektare. Buah oyong mudah rusak oleh karena itu diperlukan untuk memperpanjang rak, terutama untuk pengiriman jarak jauh. Pada suhu 12-16⁰C, buah oyong dapat disimpan hingga 2-3 minggu.

Sumber: www.hortikultura.litbang.pertanian.go.id

 

Anda sedang mencari benih oyong unggul?
Kunjungi laman berikut.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *