Sumber Kontaminasi Jamur

Sumber kontaminasi berasal dari faktor dalam kultur dan faktor lingkungan (dari luar kultur). Faktor dalam kultur terdiri atas media tanam, wadah/kemasan media tanam, dan miselium jamur itu sendiri. Faktor lingkungan (faktor luar) meliputi kebersihan lingkungan; kebersihan ruangan pembuatan bibit; termasuk ruang inokulasi atau tempat inokulasi; dan sterilitas semua peralatan yang digunakan untuk pembuatan bibit, kebersihan pekerja, dan ketepatan teknik kerja aseptis.

Kebersihan ruangan pembibitan. Upaya mengantisipasi dan mengendalikan kontaminasi pada bibit

Kebersihan ruangan pembibitan. Upaya mengantisipasi dan mengendalikan kontaminasi pada bibit

Tingkat kesterilan media tanam dan wadah/kemasan media tanam sangat menentukan ada tidaknya kontaminan. Pada miselium itu sendiri, bisa membawa kontaminan, apabila tidak betul-betul murni. Terikutnya satu atau beberapa sel lain pada miselium maka setelah diperbanyak saat pembuatan bibit, dari satu atau beberapa sel kontaminan tersebut, akan dengan cepat berkembang menjadi koloni kontaminan. Biasanya kontaminan merupakan mikroba yang pertumbuhannya jauh lebih cepat dari miselium jamur tiram. Dengan demikian, bibit yang telah terkena kontaminasi, walau sedikit kontaminasinya, bibit tersebut sudah tidak bisa digunakan. Begitu ditemukan kontaminan, harus segera disisihkan keluar dari tempat pembuatan bibit.

Kunci untuk mengendalikan kontaminasi bibit jamur dari faktor dalam kultur adalah menjaga kesterilan media tanam dan wadah/kemasan media. Tingkat kesterilan apabila memungkinkan dicek secara laboratoris, terutama untuk media tanam kultur atau bibit. Sumber bibit, baik berupa kultur murni maupun bibit dasar (bibit induk) harus dicek kemurniannya.

“Pencegahan terjadinya kontaminasi yang bersumber dari luar, meliputi menjaga sanitasi ruangan dan lingkungan, menjaga sterilitas semua peralatan yang digunakan untuk pembuatan bibit. Kebersihan pekerja termasuk yang perlu diperhatikan. Pekerja akan bekerja di tempat pembuatan bibit juga harus bersih, mengenakan baju yang bersih. Sebelum bekerja, tangan dicuci dengan sabun, lalu disemprot dengan alkohol 70%.”

Di udara, air, dan tanah terdapat berbagai mikroba yang memungkinkan untuk mengontaminasi kultur maupun bibit. Dengan demikian, ketepatan teknik kerja aseptis, yaitu menggunakan bahan, alat, semua dalam kondisi steril, dan bekerja di tempat yang steril (ruang steril, laminar air flow atau enkas), tetap memungkinkan terjadinya kontaminasi. Hal ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman teknik kerja aseptis.

Prinsip teknik kerja aseptis sebenarnya adalah mempertahankan kondisi bahan dan alat tetap dalam keadaan steril. Ini yang menjadi alasan, saat kontaminasi. Hal ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman teknik kerja aseptis.inokulasi ruang inokulasi harus ditutup, agar terhindar dari aliran udara yang membawa mikroba kontaminan. Pengaduk bibit harus dibakar terlebih dahulu agar mikroba yang menempel pada alat tersebut mati. Memasukkan bibit harus cepat karena semakin lama maka sel-sel kontaminan yang masuk melalui udara akan semakin banyak. (ss)

Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *