Pulang Satu, Datang Seribu

Pulang Satu, Datang Seribu

Mudik atau pulang kampung merupakan istilah yang sudah sangat melekat dalam masyarakat Indonesia. Fenomena ini sudah menjadi tradisi tahunan, bergulir dari tahun ke tahun, khususnya menjelang Idul Fitri. Sebagian besar ‘orang kota’ baik masyarakat kota asli maupun masyarakat pendatang yang bekerja atau tinggal di kota pulang ke kampung halamannya masing-masing untuk menemui sanak keluarga dan handai taulan. Menjelang lebaran, kota pun menjadi lengang.

Memang, sampai saat ini, Jakarta khususnya masih terlihat menggiurkan sebagai ladang untuk mencari pundi-pundi dan mata pencaharian yang prestisius untuk masyarakat pedesaan. Di dalam benak mereka tertanam paradigma bahwa bekerja di Jakarta itu terkesan lebih keren dibandingkan di desa, meskipun pekerjaan yang digeluti di Jakarta sebagai buruh bangunan, pembantu rumah tangga, atau bahkan sebagai manusia gerobak. Hal itu tidak menjadi masalah bagi sebagian besar kaum pendatang.

Paradigma tersebut menyebabkan orang yang melakukan urbanisasi dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sayangnya, hal ini masih belum bisa dikontrol dengan baik oleh pemerintah setempat. Fenomena yang terjadi adalah pemuda dan pemudi yang tinggal di desa sebagian besar memiliki pendidikan setingkat SD. Kemudian, dengan keahlian ‘seada dan sejadinya’ yang dimiliki, mereka berangkat ke kota untuk mengadu nasib. Biasanya keberangkatan mereka ini juga atas arahan dan bimbingan dari kerabat yang sebelumnya sudah bekerja di Jakarta terlebih dahulu.

Hal ini akan terjadi pada generasi berikutnya, pemuda dan pemudi yang sudah ‘sukses’ mendapatkan pekerjaan di Jakarta kemudian pulang kampung ketika menjelang lebaran. Di kampung halaman, pemuda dan pemudi tersebut terlihat wah di mata tetangga atau pun kerabatnya. Hal yang terjadi adalah tetangga atau kerabatnya tersebut meminta pemuda dan pemudi tadi untuk mengajak serta anaknya yang masih belia untuk mengadu nasib di Jakarta dengan harapan dapat memperbaiki ekonomi keluarga. Alhasil, fenomena urbanisasi ini terus terjadi secara berulang setiap tahunnya, bahkan cenderung kian meningkat.

Diperlukan suatu kebijakan atau tindakan nyata oleh pemerintah desa maupun masyarakat setempat yang peduli akan kemajuan desanya agar dapat mengubah paradigma sebagian besar masyarakat desa bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus pergi jauh ke kota. Tidak munafik memang, UMR di daerah perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding pedesaan. Namun, masih banyak sumber daya alam di pedesaan yang bisa dimanfaatkan dan diolah untuk kemajuan desa.

Daqu Agrotechno melihat sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada sebagai potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagai salah satu lembaga otonom Daarul Quran yang berkonsentrasi pada bidang pertanian dan perkebunan, melalui visinya yaitu mewujudkan usaha pertanian berkelanjutan bersama masyarakat yang berorientasi pada sosial entrepreneurship, Daqu Agrotechno menyelenggarakan beberapa pelatihan dan program yang bertujuan untuk membina, membimbing, mendampingi, dan mengembangkan skill masyarakat di bidang pertanian.

Beberapa pelatihan yang diselenggarakan di antaranya Pelatihan Budidaya Jamur Tiram, Pelatihan Hidroponik dan Pelatihan Pertanian Terpadu. Sedangkan program-program yang diusung oleh Daqu Agrotechno meliputi Program Pohon Kehidupan, Peternakan Berbasis Lingkungan dan Program Perbaikan Gizi Keluarga Dhuafa.

Pada awalnya, penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan program-program oleh Daqu Agrotechno ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan internal Pesantren Daarul Quran saja, namun sekarang tujuan itu mengalami peningkatan menjadi berorientasi pada pemberdayaan masyarakat untuk mengangkat perekonomian dan aspek religi masyarakat yang bersangkutan. Dengan mengikuti berbagai pelatihan dan program yang diusung Daqu Agrotechno, diharapkan kemampuan dan teknik bertani masyarakat dapat meningkat sehingga mereka bisa mengolah dan memakmurkan lahan pertanian dan perkebunan yang ada di daerahnya. Dengan demikian, usaha yang mereka lakukan di daerahnya akan lebih mendatangkan manfaat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain dibandingkan dengan pemikiran ‘keren’nya untuk dapat mengadu nasib di ibukota tanpa skill dan pengetahuan yang mendukung.

Kalau bukan warga sendiri, lalu siapa yang akan memajukan daerahnya ?! (rm)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *