Powdery Mildew

Powdery Mildew

 

Setiap makhluk hidup berisiko untuk mengalami suatu penyakit, tidak hanya manusia dan hewan, tumbuhan pun mengalami hal ini. Sebut saja powdery mildew, penyakit ini sering menyerang beberapa jenis tanaman di antaranya tanaman melon, apel, cabai, pare juga tanaman jeruk. Bahasan dalam artikel ini akan fokus pada powdery mildew yang menyerang tanaman jeruk.

Apa itu powdery mildew ?

Nama lainnya adalah penyakit embun tepung. Menurut Sastrahidayat (1987), penyakit embun tepung pada tanaman jeruk banyak terdapat di Indonesia. Di Indonesia, Sri Lanka dan India, penyakit ini terbilang cukup berat.

Mengapa sering disebut penyakit embun tepung ?

Gejala penyakit ini ditunjukkan dengan adanya lapisan putih seperti tepung pada permukaan daun tanaman yang terserang. Lapisan putih ini terdiri atas miselium, konidiofor dan konidia dari cendawan. Keberadaan lapisan ini menyebabkan daun malformasi (mengering akan tetapi tidak gugur) yang biasanya bersifat permanen, tidak dapat tumbuh lagi. Penyakit ini umumnya terjadi pada waktu musim pertunasan. Fase kritis serangan adalah periode pertunasan dan daun muda yang sedang tumbuh, buah muda yang terserang mudah gugur.

Penyakit powdery mildew ini terutama terdapat pada permukaan atas daun. Jaringan di bawah lapisan tepung ini menjadi berwarna lebih tua dibandingakan dengan jaringan yang sehat dan terlihat seperti berair. Selain mengalami malformasi, daun-daun yang terserang hebat akan mengering kemudian rontok, apabila serangan penyakitnya tidak terlalu berat maka daun akan mengalami perubahan bentuk. Pucuk yang terserang dapat kehilangan daunnya, kemudian terjadi kematian pucuk (die back).

Semangun (1973) menyebutkan bahwa penyakit powdery mildew disebabkan oleh jamur Oidium tingitaninum. Jamur merupakan satu kelompok jasad hidup yang tidak memiliki klorofil (zat hijau daun, sebagai salah satu pra syarat terjadinya proses fotosintesis) dan mempunyai inti sel. Ketidakberadaan klorofil pada jamur ini menyebabkan jamur dapat hidup sebagai saprofit (hidup pada organisme yang sudah mati) yang bermanfaat bagi kehidupannya dan juga sebagai parasit (hidup pada organisme yang masih hidup) yang merupakan penyebab penyakit, baik pada tumbuhan, hewan maupun manusia. Hal inilah yang dialami oleh tanaman jeruk yang mengalami penyakit powdery mildew akibat serangan jamur yang bersifat parasit.

Penyakit ini akan terjadi apabila tanaman yang ditanam memiliki varietas rendah. Hal ini terjadi terutama pada musim kemarau yang lembab. Suhu tinggi beberapa jam kemudian terjadi hujan, hal ini akan memicu perkecambahan konidia jamur yang berada di atas permukaan daun. Terdapat sebuah laporan yang menyebutkan bahwa semua jenis jeruk rentan terhadap penyakit ini. Serangan patogen jamur Oidium tingitaninum pada buah menyebabkan gejala burik kusam permanen pada kulit buah. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas buah sehingga tergolong ke dalam kategori mutu rendah. Hal ini tentunya akan sangat merugikan baik bagi petani maupun konsumen.

Lalu, bagaimana cara mengendalikan penyakit ini ?

Menurut Semangun (1973), usaha pengendalian penyakit tanaman mutlak dilakukan secara kultur teknis, resistensi tanaman, fisis/mekanis, dan kimiawi. Pengendalian secara kultur teknis dianggap paling aman sekaligus meningkatkan produksi. Pengendalian penyakit dapat pula dilakukan dengan menanam varietas yang resisten, akan tetapi sampai sekarang belum diketahui varietas jeruk manakah yang tahan terhadap penyakit powdery mildew. Pengendalian secara fisis/mekanis dapat dilakukan dengan memangkas bagian tanaman yang sakit kemudian dibakar, namun cara ini dinilai belum efektif karena terdapat kemungkinan sebagian jamur penyebab penyakit masih tertinggal pada batang hasil pangkasan sehingga dapat menginfeksi daun-daun baru. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan hati-hati dan pada waktu yang dibutuhkan dengan menggunakan fungisida, khususnya tepung belerang dan bubur kalifornia.

Seperti dikutip dari Litbang Pertanian, pengendalian paling efektif dilakukan menjelang bertunas dan diulang saat daun muda. Digunakan bahan aktif siprokonazol dibanding tembaga hidroksida dan kapur belerang. Senyawa Azadirachtin filtrat daun nimba mampu merusak membran sel jamur Oidium tingitaninum sehingga metabolisme sel terganggu dan pertumbuhan sel jamur terhambat. Perbedaan konsentrasi daun nimba memengaruhi pertumbuhan embun tepung. Filtrat daun nimba paling efektif adalah konsentrasi 60 g/L, 80 g/L dan 100 g/L dengan persentase serangan embun tepung 11%, 14,59% dan 12,67%. Serangan yang parah pada tunas muda disarankan untuk dipangkas kemudian dimasukkan kantong plastik untuk mengurangi penyebaran konidia di kebun.

Demikian pembahasan mengenai powdery mildew atau penyakit embun tepung yang sering menyerang tanaman jeruk. Semoga bermanfaat. (rm)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *