Permasalahan Kualitas Bibit Jamur

Permasalahan Kualitas Bibit Jamur

Di masyarakat berkembang istilah bibit F0, F1, F2, F3, dan F4. Istilah F0 setara dengan bibit penjenis. Namun, untuk bisa disebut bibit penjenis seharusnya mempunyai deskripsi secara lengkap tentang karakteristik spesies dan varietas/tipe, disertai uji keunggulannya, baik secara laboratoris maupun secara lapangan, termasuk syarat tumbuh dan produksi badan buahnya dalam kondisi ideal. Dengan demikian, tidak semua hasil kultur murni disebut bibit penjenis, apabila tidak diketahui asal usulnya. Hasil kultur murni yang belum diketahui karakteristiknya secara lengkap hanya disebut sebagai isolat jamur.

Bibit F1 setara dengan bibit dasar, F2 setara dengan bibit pokok, F3 setara dengan bibit sebar, dan F4 setara dengan bibit semai. Namun, disebut setara apabila sumber bibit F0 diketahui asal usulnya dan mempunyai deskripsi spesies/varietas/tipe lengkap seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena F1-F4 secara berurutan merupakan keturunan dari F0.

Permasalahannya, yang disebut F0 atau kultur murni itu sendiri dapat ditanam berkali-kali dengan media yang sama dan pertumbuhannya tidak berbeda dengan F0 yang ditanam pertama. Namun, secara mikrobiologis dan enzimatis di laboratorium bisa diuji ciri fisiologisnya, tetap sama dengan kultur murni yang dibuat pertama kali atau telah terjadi penurunan sifat. Faktor yang sangat penting saat menumbuhkan miselium pada media tanam adalah viabilitas (daya hidup) kultur jamur.

Bibit F1. Merupakan keturunan dari kultur murni

Bibit F1. Merupakan keturunan dari kultur murni

Penelitian pada Pleurotus flabelatus yang telah berulang kali ditanam pada media PDA (Potato Dextrose Agar), saat ditanam pada media tanam jerami padi ternyata pertumbuhan miseliumnya sangat jelek. Glukosa atau senyawa gula dalam media PDA menyebabkan menurunnya aktivitas dan kemampuan jamur untuk merombak bahan lignoselulosa dalam media tanam. Ini menjadikan daya hidupnya menurun saat bibit yang berbentuk miselium itu ditanam pada media tanam yang banyak mengandung lignoselulosa.

Bibit yang sering disebut sebagai F1, F2, F3, dan F4, secara fisik tidak berbeda. Kultur murni jamur tiram dapat ditumbuhkan langsung pada biji-bijian maupun pada bahan lignoselulosa. Bibit F1 sering ditanam pada biji-bijian, dengan maksud dapat diperbanyak dalam waktu cepat. Miselium jamur tiram dapat tumbuh memenuhi media tanam biji-bijian dalam waktu 1-2 minggu tergantung jenis biji-bijiannya. Akan tetapi, di dalam media tanam lignoselulosa yang sering dibuat baglog, diperlukan waktu 3-4 minggu. Selanjutnya, bibit F2 sampai F4 ditanam menggunakan media tanam lignoselulosa. Hal ini dimaksudkan agar bibit sudah beradaptasi dengan bahan di dalam media tanam sehingga bisa dijamin pertumbuhannya di dalam baglog. Akan tetapi, menjadi rancu apabila bibit F1 yang ditanam berkali-kali dalam media biji-bijian disebut bibit F1. Berdasarkan penelitian, bibit induk hanya dapat diturunkan sebanyak 2-3 generasi sebelum terjadi penurunan sifat.

Bibit yang diturunkan berkali-kali dari miselium, sesungguhnya tidak masalah apabila daya hidup dan produktivitasnya tidak menurun. Akan tetapi, dalam produksi bibit sering belum mempunyai standart operating procedur (SOP), belum menerapkan good culture practice (GCP), dan belum ada pengawasan dari pihak berwenang yang menjamin mutu bibit. Hal ini mengakibatkan bibit yang diturunkan berkali-kali semakin banyak kontaminasi dan sifat keunggulannya menurun. Penerapan SOP, GCP, dan pengawasan mutu inilah yang merupakan syarat utama dalam proses sertifikasi bibit yang digunakan untuk menjamin bibit berkualitas. Dengan demikian, tidak dijumpai lagi masalah penurunan produktivitas jamur yang disebabkan oleh faktor bibit. (ss)

Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *