Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai

Antraknosa pada cabai disebabkan oleh genus. Colletotrichum. Ada enam spesies utama yang menyebabkan antraknosa, yaitu Colletotrichum gloeosporioides, C. acutatum, C. dematium, C. capsici, dan C. coccodes. Dari enam spesies tersebut, C. capsici, C. gloeosporioides, dan C. acutatum menyebabkan kerusakan pada buah dan kehilangan hasil paling besar.

Di Indonesia, penyakit antraknosa sudah sangat meluas, baik pertanaman di dataran rendah maupun dataran tinggi. Penyakit tersebut menyebabkan kerugian yang sangat besar karena menyerang buah pada berbagai fase perkembangan, baik yang baru terbentuk maupun yang telah siap dipanen. Penyakit ini dapat menurunkan hasil cabai hingga 75%. Di daerah Brebes, Jawa Tengah, dilaporkan masih menyebabkan kerugian hingga 45%, Demak hingga 65%, sedangkan di Sumatera Barat mencapai 35% meskipun telah dilakukan pengendalian sangat intensif menggunakan fungisida.

Cendawan ini menyerang semua bagian tanaman, terutama buah. Penyakit ini dapat menimbulkan kegagalan berkecambah. Serangan penyakit ini pada kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Serangannya pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, lalu infeksi berlanjut ke bagian lebih bawah, yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering berwarna cokelat kehitam-hitaman. Acervuli dapat dilihat pada batang berupa jendulan ke atas. Penyakit ini menyebabkan buah busuk berwarna, seperti terkena sengatan matahari dan diikuti oleh busuk basah yang berwarna hitam karena penuh dengan setae (rambut hitam) yang berbentuk kosentrik. Penyakit ini umumnya menyerang buah cabai yang menjelang merah.

Kegiatan pengendalian penyakit antraknosa adalah sebagai berikut.

  • Rendam benih dalam air hangat kuku (55-60⁰C) selama 30 menit atau berikan perlakuan dengan fungisida sistemik, yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati.
  • Siram bibit dengan fungisida, seperti Antracol (umur 5 hari sebelum pindah tanam).
  • Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit. Selain itu, cuci tangan dengan segera setelah memegang tanaman sakit.
  • Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae (terong dan tomat) atau tanaman inang lainnya, seperti pepaya. Berdasarkan penelitian IPB, patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai. Oleh karena itu, jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terserang antraknosa ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.
  • Gunakan mulsa plastik hitam perak karena dapat memantulkan sinar matahari pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembapan tidak terlalu tinggi.
  • Gunakan jarak tanam yang lebar, yaitu sekitar 70 cm x 60 cm dan tanam secara zig zag untuk mengurangi kelembapan. Lakukan pengendalian gulma agar kelembapan berkurang.
  • Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misal Antracol 7 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 Wp, Topsin M70WP, Previcur N, Starmyl 25WP, Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik). Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan, baik yang menggunakan fungisida sistemik ataupun fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya. (ms/ry/rd)

 

Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari”

Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi

Sebelumnya: Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai

Selanjutnya: Pengendalian Penyakit Busuk Daun Choanephora pada Tanaman Cabai

Selangkapnya: Panduan Budi Daya Cabai

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *