Pengendalian Kontaminasi pada Budidaya Jamur Tiram

Pengendalian Kontaminasi pada Budidaya Jamur Tiram

Poin ketiga yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi dan mengendalikan kontaminasi pada bibit jamur tiram adalah pengendalian kontaminasi. Pemeriksaan di ruang inkubasi diperlukan untuk pengecekan terjadinya kontaminasi. Apabila ditemukan kontaminan, dengan tanda-tanda ditemukan warna lain pada media atau ada pertumbuhan miselium atau lendir dengan media tanam tidak berubah warnanya menjadi lebih terang, segera diambil sekaligus dengan wadahnya untuk dikeluarkan dari tempat pembuatan bibit.

Kontaminasi jamur oncom pada bibit yang telah diinokulasi pada media tumbuh (baglog)

Kontaminasi jamur oncom pada bibit yang telah diinokulasi pada media tumbuh (baglog)

Bibit yang telah terkontaminasi apabila akan dibuang sebaiknya dibuang jauh dari lokasi pembuatan bibit, jangan ditumpuk di dekat lokasi pembuatan bibit. Penumpukan tersebut akan mengakibatkan kontaminan mudah menyebar melalui aliran udara. Apabila yang terkontaminasi dalam jumlah banyak, sebelum dipindahkan/dibuang, ruang inkubasi beserta bibit yang tidak terkontaminasi tersebut dipasteurisasi terlebih dahulu.

Pasteurisasi bisa menggunakan uap panas suhu 60⁰C selama empat jam. Setelah bibit dikeluarkan, ruang inkubasi dibersihkan. Diperlukan pula penyemprotan ruang menggunakan disinfektan atau fumigasi menggunakan bahan seperti Na-hipoklorit atau fungisida maupun bakterisida. Na-hipoklorit di rumah tangga sering digunakan sebagai pemutih baju. Pada kejadian kontaminasi yang parah, sebaiknya produksi bibit di tempat tersebut perlu diistirahatkan sampai tiga bulan. Hal ini dimaksudkan untuk memutus kehidupan mikroorganisme kontaminan. (ss)

Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *