Penanaman 10.000 hektar Jabon untuk Penghafal Al-Quran akan Dimulai di Sukabumi

Sukabumi – Cita-cita penanaman 10.000 hektar pohon jabon untuk santri penghafal Al-Quran akan dilakukan pertama kali di Desa Kalapanunggal, Kecamatan Kalapanunggal, Sukabumi. Lahan wakaf satu hektar tersebut akan menjadi tonggak awal untuk penanaman 10.000 hektar jabon. Pada Kamis (14/01/2015), tim Daqu Agrotechno telah melakukan survey dan persiapan penanaman jabon di lahan tersebut sekitar 860 pohon.

Saat ini Daqu Agrotechno sedang mengembangkan perkebunan Jabon meliputi pembebasan lahan, pembibitan dan pengelolaannya. Insya Allah, melalui program 10.000 hektar perkebunan jabon, lahan untuk ditanami jabon semakin bertambah. Program ini merupakan investasi sosial untuk 6 (Enam) tahun kedepan, hasil dari pohon jabon untuk membiayai 1 santri penghafal Al Qur’an

Mengapa Pohon Jabon ?

  1. Fast Growth Tree yang bisa dipanen dalam usia 5-7 tahun dengan ciri berbatang silinder, bebas cabang sampai 60% dari tinggi kayu, self pruning (kecenderungan untuk merontokkan cabangnya sendiri), minim mata kayu, dan mudah untuk dikeringkan, serta sampai sekarang hanya ada hama yang memakan daunnya saja, tidak kepada batangnya,termasuk tumbuhan pionir yang dapat tumbuh di lahan terbuka/kritis seperti tanah liat, tanah lempung podsolik coklat dan tanah berbatu.
  2. Dipakai untuk sektor industri yakni kayu lapis karena minim mata kayu, bentuk batang yang silindris, bebas cabang, diameter besar dan memiliki serat lurus,serta mudah dikeringkan yang terdapat dalam karakteristik pohon jabon.
  3. Konstruksi bahan bangunan yang konon dulunya banyak menggunakan bahan baku kayu pinus dan kayu konifer, sejak jabon dibudidayakan, banyak pabrik yang beralih kepada jabon karena struktur kayu yang ringan dengan tingkat kekuatan yang cukup baik yang sangat diminati oleh Negara Jepang karena banyaknya bencana alam yang terjadi di negara tersebut.
  4. Digunakan untuk pulp karena karakteristik kontur warna Jabon yang berwarna putih serta memiliki nilai artistik karena seratnya yang bisa digunakan variasi oleh arsitektur.
  5. Semakin menipisnya jumlah kayu jati sebagai bahan baku industri mebel, menjadikan kayu jabon sebagai suatu alternatif mengingat kualitas kayu Jabon yang memiliki tingkat keras level 3 yang memenuhi persyaratan industri mebel.
  6. Digunakan untuk industri korek api, furniture, mainan anak-anak.
  7. Bukan kayu yang dilindungi, dan tidak membutuhkan perizinan dalam penebangannya serta memiliki fungsi ekonomis yakni berbisnis dan fungsi sosialis, menyembuhkan lahan kritis di Indonesia dan menyejahterakan masyarakat di desa dengan memanfaatkan lahan non marginal. (dip)jabon

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *