Pemeliharaan Sumber Bibit untuk Mempertahankan Kemurnian Bibit

Pemeliharaan Sumber Bibit untuk Mempertahankan Kemurnian Bibit

Artikel sebelumnya mengulas tentang pemeliharaan sumber bibit untuk mempertahankan viabilitas bibit, kali ini akan dibahas pemeliharaan sumber bibit untuk mempertahankan kemurnian bibit.

Kemurnian bibit merupakan salah satu syarat utama bibit berkualitas. Kemurnian yang dimaksud bukan hanya ada tidaknya kontaminasi dari mikroorganisme lain, tetapi juga ada tidaknya campuran dari jenis jamur yang sama (sama-sama jamur tiram), tetapi dari varietas atau tipe lain. Penulis pernah menjumpai penangkar bibit yang tidak menduga bagwa bibit jamur tiram yang dibuat ternyata tidak menghasilkan badan buah jamur tiram seperti jenis yang diinginkan konsumen. Hal ini bisa terjadi karena adanya tipe simpang jamur tiram, yang setelah ditangkarkan sampai bibit semai, pertumbuhan tipe simpangnya justru mendominasi.

Badan buah jamur sedang bertumbuh di salah satu kumbung P3JT Daqu Agrotechno, Ciloto, Cianjur

Badan buah jamur sedang bertumbuh di salah satu kumbung P3JT Daqu Agrotechno, Ciloto, Cianjur

Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk benih tanaman, dipersyaratkan isolasi jarak dan isolasi waktu. Definisi isolasi jarak adalah jarak minimal yang harus dipenuhi suatu unit penangkaran benih dengan pertanaman sejenis di sekelilingnya. Dengan maksud menghindari bercampurnya serbuk sari yang mudah terbawa angin sehingga kemurnian spesies tetap terjaga. Isolasi jarak ini seharusnya juga diterapkan pada penangkaran bibit jamur untuk menghindari bercampurnya spora jamur dari pemeliharaan sumber bibit atau potongan miselium dari proses inokulasi bibit. Spora atau potongan miselium mudah terbawa angin dan pada kondisi lembap, mudah tumbuh menjadi miselium baru. Padahal, bentuk miselium jamur dari beberapa jenis jamur secara kasat mata sulit dibedakan. Dengan demikian, lebih baik menghindari bercampurnya spora atau potongan miselium dengan isolasi jarak, karena sulit membedakan tipe simpang pada bibit jamur. Tipe simpang baru diketahui setelah produksi badan buah.

Mengacu pada SNI benih tanaman, isolasi waktu didefinisikan sebagai perbedaan waktu tanam minimal yang harus dipenuhi dari suatu unit penangkaran benih dengan pertanaman sejenis di sekelilingnya sehingga waktu berbunga tidak bersamaan. Hal ini juga untuk mencegah terjadinya penyerbukan dari spesies/varietas lain. Pada penanaman sumber bibit jamur, pembentukan badan buah jamur yang menghasilkan spora terjadi beberapa kali dalam satu siklus penanaman sehingga tidak memungkinkan untuk menerapkan isolasi waktu. Isolasi untuk keperluan ini lebih bisa diterapkan dalam bentuk isolasi fisik, seperti penanaman pada ruang kumbung yang berbeda pada jarak tertentu. Pada pembuatan bibit dasar, bibit pokok, dan bibit sebar, juga bisa diterapkan isolasi secara fisik untuk menghindari spora atau potongan miselium yang terbawa oleh angin. Cara sederhana untuk isolasi fisik adalah dengan menutup pintu ruang inokulasi sehingga sedapat mungkin aliran udara dari luar tidak bebas masuk. Ruang inokulasi memang disarankan tidak ada jendela atau ventilasinya. Ruang inokulasi yang lebih modern sudah dilengkapi lampu UV untuk mensterilkan udara dan ruang serta diberi AC untuk menyaring aliran udaranya. (ss)

Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *