Pemanenan Bibit pada Usaha Pembibitan Jamur Tiram

Pemanenan Bibit pada Usaha Pembibitan Jamur Tiram

Bibit yang siap dipanen memiliki tanda-tanda khusus yang perlu dipahami, yaitu adanya miselium dalam setiap media tumbuh tempat bibit di tanam.

1. Kultur Murni sebagai Bibit Penjenis

Bibit penjenis dalam bentuk kultur murni dapat dipanen saat miselium telah tumbuh merata pada media. Untuk kultur bibit penjenis dapat dijual dalam bentuk kultur agar miring. Penjualan dalam kemasan tabung reaksi volume 5 ml atau 10 ml. Saat ini, kultur murni yang diperbanyak dalam kultur cair pun sudah mulai diperjualbelikan di luar Indonesia. Kultur yang diperbanyak dalam media cair, pemanenan berikut medianya, dan biasanya dihomogenisasi terlebih dahulu sebelum dikemas. Kultur murni disyaratkan dengan tingkat kemurnian 100% sehingga dipastikan tidak ada sedikit pun kontaminasi.

2. Bibit Dasar, Bibit Pokok, dan Bibit Sebar

Pengaturan waktu inkubasi sangat menentukan ketepatan waktu bibit sampai ke konsumen. Pemanenan bibit diatur saat sampai pada konsumen sehingga bibit masih dalam kondisi viabilitas tinggi. Dengan demikian, diperhitungkan waktu yang diperlukan antara pembuatan bibit dengan waktu penggunaan bibit di pihak konsumen. Akan tetapi, untuk mengontrol kualitas bibit, diperlukan waktu inkubasi yang cukup untuk mengetahui keberhasilan pertumbuhan bibit, termasuk ada tidaknya pertumbuhan kontaminan. Biasanya waktu 3-4 hari sudah cukup untuk mengetahui daya tumbuh (viabilitas) miselium bibit dan terdapatnya kontaminan, kecuali bibit yang ditanam pada bahan lignoselulosa, perlu waktu inkubasi minimal satu minggu. Bibit tidak boleh terdapat kontaminan atau tidak ada toleransi kontaminasi pada bibit. Bibit yang terkontaminasi, sebaiknya langsung disingkirkan untuk dimusnahkan. Ini akan lebih menjamin kualitas bibit yang dihasilkan sehingga saat bibit sampai pada konsumen hasil pertumbuhan bibit tidak mengecewakan. Dengan demikian, bibit yang baru saja dibuat jangan langsung dipasarkan.

3. Bibit Semai

Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan miselium memenuhi media tanam adalah 3-4 minggu tergantung komposisi media dan viabilitas miselium bibit sebar. Namun, bukan berarti pemanenan harus dilakukan atau baru dilakukan setelah miselium memenuhi media tanam dalam baglog karena tujuan usaha bukan untuk memproduksi badan buah.

Pemanenan dilakukan setelah waktu inkubasi kurang lebih 3-4 hari. Setelah itu, dilakukan kontrol kualitas untuk bibit semai. Kontrol yang dimaksud adalah untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan miselium dan adanya kontaminasi. Viabilitas tinggi dilihat dari kecepatan bibit untuk tumbuh pada baglog. Dilihat dari tanda-tanda terdapatnya uap air yang mengembun di bagian dekat cincin, dan adanya perubahan warna media tanam menjadi lebih terang, serta akhirnya terlihat miselium berwarna putih yang tumbuh dimulai dari sekitar cincin tempat memasukkan bibit sebar. Baglog yang telah terdapat tanda-tanda seperti itu, siap untuk dijual kepada konsumen.

Terjadinya kontaminasi ditandai dengan adanya pertumbuhan miselium berwarna putih atau warna lain atau munculnya lendir, tetapi tanpa disertai perubahan warna media tanam menjadi terang. Apabila terjadi kontaminasi, segera hitung berapa persen yang terkontaminasi. Jika terdapat lebih dari 3% baglog terkontaminasi, sebaiknya semua baglog segera disingkirkan dari ruang inkubasi untuk mencegah meluasnya pertumbuhan kontaminan. Apabila kurang dari 3%, masih bisa diatasi dengan memilih baglog yang terkontaminasi untuk dimusnahkan. Setelah itu, teknik kerja pembuatan baglog perlu dievaluasi. Kontaminan berasal dari kurang sterilnya alat dan bahan atau teknik kerjanya yang tidak aseptis. (ss)

Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *