Memilih Bahan Tanam dari Jenis Unggul

Jenis jamur unggul sangat ditentukan oleh sifat genetik yang diturunkan. Untuk memilih jenis jamur yang akan dijadikan sumber bahan tanam, dapat dilakukan melalui penilaian kriteria keunggulannya. Secara umum, jenis jamur unggul dapat dinilai dari produksi badan buah dan viabilitas (ketahanan hidup) jamur. Oleh karena jamur untuk keperluan konsumsi maka juga harus disertai dengan penilaian kandungan gizi dan sifat organoleptik (terutama rasa dan bau) yang juga menjadi penilaian konsumen dalam memilih jamur sebagai bahan pangan. Selain itu, jamur juga sering dikembangkan sebagai bahan obat herbal. Dengan demikian, kadar bahan bernilai obat ini juga patut dipertimbangkan dalam menilai keunggulan jenis jamur.

Produksi badan buah biasanya merupakan pertimbangan utama dalam memilih bahan tanaman jamur. Hal ini karena panen jamur merupakan aspek terpenting dari budidaya jamur konsumsi. Mengingat berat media tanam per log, bentuk media tanam, serta macam komposisi media tanam sangat bervariasi maka untuk menilai produksi badan buah jamur, dapat digunakan nilai biological efficiency (BE). Dasarnya adalah konversi bahan-bahan lignoselulosa menjadi badan buah jamur yang dipanen. Nilai BE dihitung dari hasil perbandingan antara berat segar badan buah dengan berat kering media tanam pada saat penanaman bibit semai (media tanam pada saat awal penanaman). Nilai BE bervariasi antara jenis jamur yang satu dengan yang lain. Jamur tiram yang ditanam pada media tanam yang berbeda, akan mempunyai nilai BE yang berbeda pula. Satu jenis jamur yang ditanam pada media tanam yang sama, tetapi dengan kondisi ekologis (lingkungan) yang berbeda, menyebabkan nilai BE berbeda pula. Nilai BE yang tinggi menunjukkan produksi badan buah jamur yang tinggi dan hal ini mudah untuk dijadikan dasar pertimbangan ekonomis produksi jamur.

Tabel 1 Nilai Biological Efficiency (BE) Berbagai Jamur Tiram

Jenis Jamur Tiram (strain)

Media Tanam

BE (%)

Pleurotus sajor-caju Limbah kapas

69,41

Limbah kapas (kondisi berbeda)

63,07

Jerami padi

27,39

Bagas (ampas tebu)

174,00

Pleurotus flabelatus Jerami padi

37,15

Bagas (ampas tebu)

44,39

Sekam padi

10,64

Pleurotus ostreatus Bagas (ampas tebu)

49,17

Limbah gergajian

64,69

Limbah gergajian + jerami gandum

43,59

Limbah gergajian + serasah daun

62,09

Jerami gandum

44,72

Jerami gandum + serasah daun

57,85

Serasah daun

21,05

Alang-alang

36,20

Pleurotus eryngii Jerami gandum

51,40

Jerami gandum + bekatul

58,60

Jerami+batang kapas + bekatul

77,20

Sumber: Subba Rao, 1982; Sumarsih, 1992; Riyati dan Sumarsih, 2002; Shah et al., 2004; Sghar et al., 2007; Kirbag dan Akyuz, 2008.

Ketahanan hidup jamur terdiri atas ketahanan pada kondisi lingkungan dan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit. Lingkungan pertumbuhan jamur meliputi kondisi di dalam media tanam dan di luar media tanam. Di dalam media tanam, miselium jamur tumbuh secara saprofitik, yaitu dengan cara menguraikan senyawa karbon organik kompleks menjadi senyawa-senyawa sederhana sejenis gula, kemudian menyerapnya ke dalam miselium. Senyawa organik utama yang diuraikan oleh jamur tiram adalah lignoselulosa. Proses tersebut membutuhkan enzim-enzim pengurai lignin dan selulosa. Enzim ini dihasilkan oleh miselium itu sendiri, tetapi jamur dapat kehilangan kemampuan untuk menghasilkan enzim pengurai apabila ditumbuhkan terus menerus pada media sintetik. Sumber karbon media sintetik biasanya terdiri atas senyawa karbon sederhana, termasuk gula dan senyawa sejenis. Dengan demikian, bibit jamur yang diturunkan dari miselium yang terus menerus ditanam pada media sintetik akan terjadi penurunan pertumbuhan saat ditanam pada media tanam yang berisi bahan lignoselulosa.

Kondisi di luar media tanam sangat menentukan pertumbuhan miselium. Setiap jenis jamur membutuhkan kondisi lingkungan tertentu terutama suhu, kelembapan, kandungan O2 dan CO2, serta cahaya. Umumnya jamur memerlukan suhu sedang dan kelembapan tinggi. Kondisi lingkungan luar sebenarnya merupakan kondisi yang masih bisa diatur dengan berbagai teknik, tetapi akan menambah biaya produksi.

Maraknya usaha jamur di Indonesia menyebabkan semakin banyaknya pembudidaya jamur yang mencari bibit yang tahan hidup di daerah yang bersuhu panas dan tidak memerlukan kelembapan tinggi sehingga dapat dibudidayakan di seluruh daerah dengan biaya produksi seminimal mungkin. Untuk membuat kultur jamur yang tahan suhu tinggi bisa dilakukan dengan bioteknologi, yaitu dengan rekayasa gengetik yang hanya dapat dilakukan oleh ahlinya. Cara yang sederhana dilakukan dengan teknik pemilihan jenis-jenis jamur yang telah diadaptasi pada suhu tertentu.

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Salah satu jenis jamur yang banyak dibudidayakan masyarakat.

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Salah satu jenis jamur yang banyak dibudidayakan masyarakat.

Tabel 2 Suhu Lingkungan yang Diperlukan untuk Budidaya Jamur Konsumsi

Jenis Jamur

Suhu Lingkungan (⁰C)

Pertumbuhan Miselium

Pembentukan Badan Buah

Pleurotus ostreatus
(strain suhu rendah)

20-27

10-15

(strain toleran suhu)

20-35

10-30

Pleurotus sajor-caju

25-35

20-30

Sumber: Chang dan Li, 1982. (ss)

Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram ? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *