Masih Gengsi Pakai Produk Bangsa Sendiri ?!

Dewasa ini, tren fashion semakin digandrungi oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia khususnya usia remaja. Tidak tanggung-tanggung, titik acuan atau kiblat fashion yang kian digemari oleh remaja berasal dari mode fashion luar negeri. Setelah dunia barat, kini bergeser ke timur. Sebut saja Jepang yang sudah lebih dulu menjadi salah satu kiblat fashion yang dianut oleh tidak sedikit masyarakat Indonesia. Kemudian diikuti oleh Korea Selatan. Ekspansi budaya dari ‘negeri ginseng’ ini memang cukup masif. Tidak sekadar dari gaya berbusana saja, model rambut, kuliner dan produk elektronik dalam negeri pun mendapat pengaruh dari negara beribukota Seoul ini.

Hal yang patut disayangkan adalah sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung lebih bangga apabila dirinya telah mempunyai dan mengenakan produk buatan luar negeri. Tas ber-merk luar negeri, pakaian indah made in luar negeri, sayur dan buah impor, nampaknya kesemuanya itu terlihat memiliki prestise yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk lokal. Itulah asumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak ada asap tanpa api. Memang tidak dapat dipungkiri, trend ini terjadi karena ada alasannya.

Untuk mengatasi suatu permasalahan, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu akar permasalahannya. Kiranya apa penyebab masyarakat Indonesia lebih melirik ‘produk luar negeri’ dibandingkan produk lokal. Entah ini fakta atau opini masyarakat saja, kualitas produk luar negeri dinilai lebih bagus dibandingkan dalam negeri, baik dari segi bahan baku maupun produk akhir dan juga daya tahannya. Hal yang sama juga terdapat dalam bahan makanan. Masyarakat lebih percaya dan memilih daging impor yang dikemas menarik yang sering dijual di supermarket dibandingkan daging yang dijual di pasar tradisional. Lagi-lagi kualitas produk terkait keamanan pangan dan juga bisa jadi terkait kandungan gizinya menjadi salah dua pertimbangan perilaku konsumen (masyarakat) Indonesia.

Padahal, apabila dilihat dari potensi sumber daya alam Indonesia yang begitu melimpah ruah, gemah ripah loh jinawi, dapat dipastikan Indonesia juga dapat menghasilkan produk yang tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Salah satu contohnya adalah produk laut berupa ikan yang terdapat di sekitar perairan Sulawesi, dengan kondisi alam yang masih asri, jauh dari polusi, berbeda dengan kondisi perairan sekitar Jawa yang sudah tercemar berbagai limbah industri. Tentunya hal ini akan menghasilkan produk ikan dengan kualitas yang tinggi, khususnya kandungan gizi berupa asam amino penyusun protein maupun asam lemak tidak jenuh yang sangat baik bagi anak-anak Indonesia yang masih mengalami pertumbuhan. Astawan (2004), dibandingkan dengan bahan makanan lainnya, ikan mengandung asam amino essensial yang lengkap dan sangat diperlukan oleh tubuh manusia, oleh karena itu mutu protein ikan sebanding dengan mutu protein daging. Namun, kenyataannya ke-mana-kan-kah semua sumber daya berpotensi baik itu ? Di-ekspor-kah ?

Sungguh miris apabila kenyataannya masyarakat Indonesia khususnya anak-anak Indonesia mendapatkan ‘makanan seadanya’ sedangkan bahan makanan yang bagus diekspor ke luar negeri demi meraup keuntungan yang lebih banyak yang hanya akan menguntungkan segelintir pihak saja. Anak-anak yang menjadi generasi penerus dan pengisi negeri tercinta ini perlu makanan yang berkualitas tinggi namun berasal dari dalam negeri bukan produk luar negeri. Tentunya hal ini akan lebih membanggakan, membangun bangsa dengan sumber daya alam negeri sendiri sebagai bahan baku utamanya.

Memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk dalam negeri bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat Indonesia atas karya bangsanya sendiri. Dengan demikian, masyarakat akan lebih memilih untuk menggunakan produk dalam negeri dan berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap roda perekonomian negeri demi kemajuan bersama.

Daqu Agrotechno sebagai salah satu lembaga otonom Daarul Quran yang berkonsentrasi pada bidang pertanian dan perkebunan, berusaha untuk turut serta dalam usaha peningkatan kualitas produk dalam negeri dalam rangka mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat Indonesia atas karya bangsanya sendiri.

Melalui visinya yaitu mewujudkan usaha pertanian berkelanjutan bersama masyarakat yang berorientasi pada sosial entrepreneurship, selain menyelenggarakan beberapa pelatihan dan program yang bertujuan untuk membina, membimbing, mendampingi, dan mengembangkan skill masyarakat di bidang pertanian, seperti Pelatihan Budidaya Jamur Tiram, Pelatihan Hidroponik, Pelatihan Pertanian Terpadu, Program Pohon Kehidupan, Peternakan Berbasis Lingkungan dan Program Perbaikan Gizi Keluarga Dhuafa. Daqu Agrotechno juga menyelenggarakan program Pengembangan Perikanan.

Laboratorium Pertanian dan Perikanan Terpadu, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Laboratorium Pertanian dan Perikanan Terpadu, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Program Pengembangan Perikanan berlokasi di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Program ini secara umum sebagai pusat riset dan pengembangan perikanan tawar sekaligus juga sebagai tempat belajar bersama masyarakat dalam membudidayakan ikan.

Selain itu, keberadaan program ini juga ditujukan untuk menunjang Program Penyediaan Bahan Makanan Santri Daarul Quran, Daqu Agrotechno menyediakan ikan segar untuk makan santri. Oleh karena itu, melalui program ini Daqu Agrotechno bisa memastikan sendiri bahwa ikan yang dikirim untuk makan santri tersebut sehat dan berkualitas.

Itulah salah satu semangat kebangsaan yang dimiliki oleh Daqu Agrotechno sebagai wujud kepedulian nyata akan kemajuan bangsanya. (rm)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *