LAZIS PLN Tertarik Pembudidayaan Jamur Tiram Daqu Agrotechno

LAZIS PLN Tertarik Pembudidayaan Jamur Tiram Daqu Agrotechno

Pagi yang cerah, ayam jantan saling bersahutan. Namun, matahari masih malu menampakkan dirinya dari balik Gunung Pangrango. Nampak, banyak orang bergerombol mengenakan seragam hijau memadati jalan kecil setapak menuju Perkampungan Desa Geger Bentang, Ciloto, Bogor.

whatsapp-image-2016-11-12-at-10-40-14

Tepat di Sabtu pagi (12/11), sebanyak 150 orang yang merupakan pengurus Lembaga Zakat Infak dan Shadaqah PT. PLN se-Indonesia (Lazis PT. PLN Persero) mengunjungi kawasan intiplasma dan budidaya Jamur Tiram Agrotechno Daarul Quran. Tujuannya pun tak lain adalah mempelajari bagaimana proses pembudidayaan jamur tiram tersebut.

Dalam kesempatan itu, Pembina Lazis PLN, Ir. H. Helmi Najamuddin menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas kesempatan yang diberikan Agrotechno kepada jajaran pengurusnya. Mempelajari hal baru dalam proses budidaya jamur tiram sehingga mampu memberi nilai ekonomis yang cukup menggiurkan.

“Silahkan kepada rekan-rekan untuk pelajari lebih dalam dan tentunya proses ini dapat disesuaikan dengan lingkungan sekitar area kelola perusahaan. Mungkin ada yang cocok untuk kita kembangkan,” terangnya.

Meskipun, tidak mendukung secara lingkungan iklim daerah operasi kerja. Tentunya, ilmu ini sangatlah bermanfaat. Ia pun mengatakan, untuk memberitahukannya apabila ada yang tertarik untuk mengembangkan budidaya jamur tiram.

Kawasan seluas 8.000 m² ini dimanfaatkan oleh Daqu Agrotechno untuk memproduksi dan mengelola jamur tiram. Tak hanya itu, di sebagian lokasi juga ditanami sayur berupa kubis dan wortel.

whatsapp-image-2016-11-12-at-10-40-12

Direktur Agrotechno Daarul Qur’an, Muad Asegab menjelaskan secara detail bagaimana proses pengelolaan jamur tiram hingga waktunya panen. Semua peserta tampak antusias, siap sedia mencatat hal-hal penting yang disampaikan sampai banjir pertanyaan di saat sesi tanya jawab.

“Program ini tak hanya membudidayakan jamur tiram saja. Kami pun menyampaikan misi dakwah kepada masyarakat sekitar, bertani dan mengaji. Maka dari itu, dibentuklah saung tahfidz sebagai media dakwahnya. Berkumpul, silaturrahim, dapat ilmu dapat pahala,” ungkap Muad.

Keberadaan intiplasma dan budidaya jamur ini memangkas keberadaan tengkulak karena dari sisi distribusi, Agrotechno telah bekerjasama dengan Asosiasi Pembudidayaan Jamur Indonesia (APJI).

Disamping itu, kebutuhan jamur tiram di Indonesia masih sangat besar. Belum lagi Agrotechno pun memasok kebutuhan logistik Pesantren Daarul Quran untuk konsumsi harian santri.

Saat ini, Daarul Quran juga tangah menyiapkan sekolah tani sebagai bentuk dedikasi Daqu untuk mempertahankan keberadaan petani Indonesia.

Ia berharap, ke depan program pertanian, perkebunan, dan sebagainya mampu dikembangkan serta diduplikasi di pesantren – pesantren manapun. Sebagai salah satu upaya dalam pemberdayaan ekonomi yang nantinya mampu menopang operasional pesantren. Sehingga, keberadaan pesantren tersebut tetap bisa bertahan untuk waktu yang lama.

Sumber: PPPA Daarul Qur’an

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *