Karakter Cabai Unggul

Karakter Cabai Unggul

Varietas merupakan kelompok di bawah spesies. Varietas dapat digolongkan menjadi varietas agronomi dan varietas botani. Varietas agronomi atau kultivar (cultivated variety) adalah sekelompok tanaman yang memiliki satu atau lebih ciri yang dapat dibedakan secara jelas dan tetap mempertahankan ciri-ciri khas ini jika diperbanyak. Varietas agronomi biasanya disahkan penggunaan/penamaan berdasarkan SK Menteri Pertanian. Contoh varietas agronomi adalah varietas cabai Capsicum annuum L. ‘Hot Beauty’.

Varietas botani berbeda dengan varietas agronomi. Varietas botani adalah suatu populasi tanaman dalam satu spesies yang menunjukkan ciri berbeda yang jelas. Varietas botani dapat berupa beberapa varietas agronomi. Penulisan namanya dicetak miring dan didahului dengan singkatan “var”. Contoh varietas botani adalah Capsicum annuum L. var. longum. Beberapa varietas botani dalam spesies Capsicum annuum L. adalah var. longum, var. abbreviate, var. grossum, dan var. minimum.

Varietas agronomi cabai digolongkan menjadi dua macam yaitu hibrida dan nonhibrida. Varietas hibrida adalah F1 (turunan pertama) hasil persilangan dua galur murni. Varietas nonhibrida adalah varietas galur murni cabai atau bersari bebas yang dapat diperbanyak sendiri oleh petani. Produktivitas cabai hibrida umumnya lebih tinggi daripada nonhibrida. Keunggulan hibrida dikaitkan dengan peristiwa heterosis. Heterosis adalah keunggulan hibrida atau hasil persilangan (F1) yang melebihi nilai kisaran kedua tetuanya. Penanaman benih varietas hibrida pada generasi berikutnya (generasi F2 dan selanjutnya) akan menghasilkan tanaman yang rata-rata tidak unggul akibat adanya segresi tanaman F2. Dengan demikian, benih varietas hibrida selalu harus disediakan melalui persilangan dua tetua tersebut. Karakter unggul ini digunakan untuk memperoleh keuntungan komersial dari tanaman yang diusahakan.

Karakter Unggul Cabai

Produktivitas tinggi

Penanaman cabai menggunakan varietas unggul yang mempunyai produktivitas tinggi dapat meningkatkan produktivitas hasil di lahan sempit (pekarangan) maupun skala luas. Sebagai contoh, lahan sempit (100 m2) dengan populasi 300 tanaman akan memperoleh hasil sebanyak 300 kg jika produktivitas per tanaman mencapai 1 kg. Potensi produktivitas cabai besar hibrida mencapai 1,2 kg/tanaman/musim tanam, cabai keriting hibrida 1 kg/tanaman/musim tanam, cabai rawit hibrida 0,6 kg/tanaman/musim tanam, dan paprika hibrida 3,7 kg/tanaman/musim tanam. Potensi hasil harus ditunjang oleh kualitas buah yang baik, seperti ukuran, penampilan kulit, dan kepedasan.

Umur panen genjah

Varietas yang memiliki umur panen lebih awal (genjah) banyak diinginkan. Umur tanaman berkaitan dengan lamanya tanaman di lapangan. Semakin singkat tanaman berada di lapangan akan semakin baik karena dapat mengurangi intensitas serangan hama dan penyakit. Umumnya umur panen cabai adalah 90-120 hari setelah semai.

Tahan terhadap serangan hama dan penyakit

Cuaca dan iklim yang tidak menentu dan ekstrim membutuhkan varietas cabai yang tahan terhadap kondisi tersebut. Saat musim kemarau berkepanjangan, intensitas serangan hama (thrips, kutu daun, tungau, dan kutu kebul) sangat tinggi, sehingga diperlukan varietas yang tahan terhadap serangan hama. Demikian juga saat hujan berlebihan yang menyebabkan kelembapan tinggi, intensitas serangan penyakit yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri (layu bakteri, fusarium, phytopthora, serta antraknosa) sangat tinggi sehingga diperlukan varietas yang tahan terhadap serangan penyakit tersebut.

Daya simpan lebih lama

Cabai umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar sehingga harus tersedia dalam keadaan segar setiap saat dan tidak dapat disimpan dalam waktu relatif lama. Cabai biasanya langsung dijual setelah panen karena mutu akan turun setelah 2-3 hari disimpan dalam suhu kamar. Daya simpan di ruang bersuhu dingin (5-7⁰C) dan kelembapan 90-95% berkisar 10-20 hari. Cabai unggul mempunyai daya simpan lebih tinggi dan tahan pengangkutan sehingga menguntungkan produsen.

Tingkat kepedasan tertentu

Cabai yang rasanya pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Cabai mempunyai rasa pedas karena mengandung zat capsaicin/capsaicinoid. Capsaicin terdapat pada plasenta dan biji cabai. Tingkat kepedasan cabai yang diinginkan industri saus tertentu yaitu di atas 400 x pengenceran. Empat ratus kali pengenceran berarti cabai tersebut masih terasa pedas ketika diencerkan hinggal 400 kali (1 mL diencerkan menjadi 400 mL). Empat ratus kali pengenceran serta setara 380 ppm kandungan capsaicin.

Kualitas buah sesuai dengan selera konsumen

Selain produktivitas, sifat lain yang dikembangkan sangat berhubungan dengan permintaan konsumen. Sebagai contoh, untuk konsumen industri saus tertentu, spesifikasi buah cabai yang digunakan adalah diameter pangkal batang 1.00-1.70 cm, panjang buah 9.5-14.5 cm, warna buah merh cerah tanpa belang, dan tingkat kepedasan (kadar capsaicin) minimal 400 ppm. Pemuliaan cabai juga harus memperhatikan Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurut Badan Standardisasi Nasional (1998), panjang buah cabai pada mutu I = 12-14 cm, mutu II = 9-11 cm, dan mutu III = < 9 cm, diameter buah cabai merah mutu I = 1,5-1,7 cm, mutu II = 1,3-1,5 cm, dan mutu III = < 1,3 cm. (ms/ry/rd)

 

Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari”

Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi

 

Sebelumnya: Tanaman Cabai Mudah Tumbuh dan Tidak Mengenal Musim

Selanjutnya: Varietas Cabai Besar Unggul

Selangkapnya: Panduan Budi Daya Cabai

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *