Jasamu, Duhai Petani..

Gemah ripah loh jinawi merupakan ungkapan yang sederhana namun memiliki arti yang luar biasa dan sarat akan makna. Arti dari ungkapan ini adalah tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya. Tanah yang subur ini sebagai kekayaan yang akan membawa kemakmuran, ketenteraman, kesejahteraan dan kedamaian bagi masyarakatnya. Tidak salah ungkapan ini tersemat di bumi pertiwi, melihat begitu banyak sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga mendapat julukan sebagai negara agraris pasalnya sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian besar bahkan hampir semua petani berdomisili di daerah pedesaan. Mereka mengolah lahan pertanian bersama keluarganya untuk menghasilkan produk pertanian yang baik dan bermanfaat.

Sayangnya lahan pertanian yang mereka garap bukanlah milik pribadi. Sebagian besar lahan yang diolah merupakan milik ‘orang berada’ yang tinggal di luar kota. Petani hanya berperan sebagai ‘penggarap’. Ada beberapa sistem bagi hasil yang dianut, tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak. Namun selama ini, hasil yang diperoleh petani tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka kerjakan.

Hal yang cukup ‘mengenaskan’ ini tidak hanya dialami oleh petani yang menggarap lahan pertanian milik orang lain. Hal yang sama juga dialami oleh sebagian petani yang menggarap lahan milik pribadi. Produk pertanian yang telah dipanen akan dijual kepada pengumpul untuk kemudian dijual kembali ke pedagang besar hingga pedagang kecil kemudian terdistribusi di kalangan masyarakat. Harga jual produk pertanian dari petani ke pengumpul terbilang murah. Namun, harga jual produk pertanian ini akan berkali-kali lipat apabila sudah berada di tangan pedagang besar maupun kecil. Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena perpindahan suatu barang dari satu tangan ke tangan yang lain membutuhkan waktu dan biaya sehingga semakin banyak rantai perpindahan barang maka harga jualnya akan semakin meningkat.

Petani yang sudah berjasa mengolah lahan pertanian untuk menghasilkan produk pertanian yang sangat esensial atau sangat dibutuhkan oleh penduduk Indonesia seyogianya mendapat perhatian lebih dari Pemerintah maupun lembaga-lembaga terkait, khususnya mengenai kesejahteraannya. Selama ini orang yang berprofesi sebagai petani atau orang yang berkutat di bidang pertanian kerap dipandang sebelah mata. Hal ini terkait dengan industrialisasi yang terjadi di negara-negara maju sehingga bidang industri dianggap lebih wah dibandingkan pertanian.

Sukabumi (11/01), petani sedang memukul-mukulkan batang padi pada balok kayu untuk merontokan bulir-bulir padi yang masih menempel di batang sehingga menjadi gabah. Ini merupakan metode tradisional yang biasa digunakan untuk memudahkan dalam proses penggilingan. DAQU AGROTECHNO FOTO/Husin.

Sukabumi (11/01), petani sedang memukul-mukulkan batang padi pada balok kayu untuk merontokan bulir-bulir padi yang masih menempel di batang sehingga menjadi gabah. Ini merupakan metode tradisional yang biasa digunakan untuk memudahkan dalam proses penggilingan. DAQU AGROTECHNO FOTO/Husin.

Ir. Soekarno, Founding Fathers Indonesia, pernah mengatakan, “Pertanian adalah soal hidup matinya suatu bangsa.” Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan pertanian di negeri ini. Alangkah indahnya apabila pertanian dapat bersinergi dengan industri. Dengan demikian, dapat diciptakan teknologi modern yang ramah lingkungan untuk mengolah lahan pertanian yang dapat memudahkan petani dalam menunaikan pekerjaannya bukan untuk ‘menghilangkan’ keberadaannya.

Daqu Agrotechno menyelenggarakan beberapa program dan pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas petani dalam bidang pertanian, di antaranya Program Pohon Kehidupan yang secara khusus bertujuan untuk memberdayakan masyarakat secara ekonomi dengan meningkatkan pendapatan mereka yang terlibat dalam penanaman pohon dan Peternakan Berbasis Lingkungan sebagai upaya menambah pendapatan petani melalui kegiatan usaha ternak komunitas, juga mengintegrasikannya dengan aktivitas pertanian ramah lingkungan berupa padi dan sayuran, serta Pelatihan Hidroponik agar masyarakat yang ingin mempraktekkan bertanam dengan hidroponik dapat dilakukan dengan mudah dan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram yang dirancang agar para peserta bisa belajar sekaligus praktek budidaya jamur tiram secara bertahap, sehingga peserta bisa membudidayakan jamur tiram dengan baik dan benar. Kegiatan pelatihan budidaya jamur tiram dapat dilihat di sini.

Dengan diselenggarakannya beberapa program dan pelatihan oleh Daqu Agrotechno, harapannya secara umum sektor pertanian tidak akan kalah saing dengan industrialisasi yang sedang menjadi primadona saat ini dan secara khusus perekonomian petani pun dapat terangkat. (rm/du)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *