Intermezzo Peringatan Momentum Kemerdekaan: Berkaca pada Masa Lalu, Berjuang pada Masa Kini untuk Menyongsong Masa Depan yang lebih Cerah

Intermezzo Peringatan Momentum Kemerdekaan: Berkaca pada Masa Lalu, Berjuang pada Masa Kini untuk Menyongsong Masa Depan yang lebih Cerah

Kebangkitan nasional merupakan tonggak pertama perjuangan Bangsa Indonesia dalam skala nasional. Demikian adanya, dikarenakan sebelum tanggal 20 Mei 1908, perjuangan rakyat Indonesia masih bersifat kedaerahan. Mereka masih memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan daerahnya masing-masing. Nyatanya, untuk berhasil melawan penjajah yang semena-mena, diperlukan power yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, namun diperlukan pula semangat kebangsaan, persatuan, solidaritas, kecerdasan, dan persaudaraan. Dengan menumbuhkan dan melaksanakan hal-hal tersebut, akhirnya terciptalah semangat menggebu-gebu untuk mencapai kemerdekaan.

Rabu, 17 Agustus 2016, baru saja kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Tidak terasa usia bangsa ini sudah lebih dari setengah abad. Selain berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah mengkaruniakan kemerdekaan untuk Bangsa Indonesia, kita juga harus berterima kasih kepada generasi pendahulu yang telah berjuang dan melawan penjajah.

Perjuangan para pendahulu pada hakikatnya tidak berhenti sampai diraihnya momen kemerdekaan saja, namun mereka berharap perjuangan dapat dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Kita sebagai generasi penerus tidak boleh mengabaikan amanah yang telah dipercayakan oleh para pendahulu. Selama ini, pandangan orang-orang mengenai generasi penerus bangsa bertumpu pada golongan pemuda yang notabene masih menuntut ilmu pengetahuan seperti halnya siswa maupun mahasiswa. Padahal, generasi penerus bangsa tidak hanya sebatas siswa dan mahasiswa yang sering mendapat julukan ‘anak kemarin sore’ saja, dan sayangnya citra mahasiswa selama ini adalah ‘pendemo’ yang sering tawuran. Padahal di balik citra miring yang selama ini terlihat di televisi terdapat suatu tekad mahasiswa untuk memperjuangkan nasib sebagian rakyat yang merasa tidak diperlakukan secara adil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nyatanya, Bapak dan Ibu yang berada di ruang lingkup pemerintahan juga termasuk generasi penerus bangsa. Perlu disayangkan mengenai berita yang sering menyeruak dalam media massa baik elektronik maupun cetak akhir-akhir ini, korupsi merajalela. Sayangnya pelaku yang melakukan hal tersebut sebagian besar berasal dari ‘sana’. Hal ini cukup miris, ketika siswa dan mahasiswa ditekankan untuk menuntut ilmu sebaik mungkin, salah satu dari beberapa tujuannya adalah agar menjadi pemimpin yang berkompeten ke depannya, di lain pihak panutannya ini malah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan yaitu ‘memakan materi yang bukan miliknya’. Selain merugikan negara, lambat laun hal tersebut juga bisa merubah mindset generasi muda (siswa dan mahasiswa), yang paling ekstrem adalah apabila pola perilaku panutan yang tidak pantas tersebut tertanam di benak generasi muda. Apa kabar Indonesia 5 atau 10 tahun ke depan ?

Analogi klasik menyatakan bahwa satu batang lidi mudah dipatahkan, namun apabila beberapa batang lidi disatukan maka akan lebih sulit untuk dipatahkan. Demikian halnya dengan bangsa tercinta ini, apabila seluruh rakyat Indonesia bersatu, bahu-membahu, berjuang dan berperilaku sesuai porsinya, maka keutuhan dan integritas bangsa akan tetap terjaga. Oleh karena itu, marilah kita berkaca pada masa lalu kemudian bangkit, bersama-sama mengisi kemerdekaan yang telah susah payah diperjuangkan para pendahulu dengan hal-hal yang positif. Say no to corruption and radical demonstration ! (rm)

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *