Hama

Hama merupakan pengganggu tanaman yang berasal dari hewan/binatang yang berukuran relatif besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Beberapa hama yang sering menyerang sayuran hidroponik adalah sebagai berikut.

1. Hama cabai/paprika

a. Kutu daun

Gejala

Daun menguning secara perlahan-lahan hingga seluruh daun berwarna kuning, kecuali yang di dekat tulang daun. Populasi kutu berwarna hijau hitam. Selain menyerang daun juga menyerang pucuk dan bunga muda. Akibat serangannya, bagian tersebut tidak dapat tumbuh lebih lanjut.

Penyebab

Sebagai penyebabnya adalah Aphids sp. Selain menyerang paprika juga tanaman yang lain seperti tomat dan kedelai.

aphis_sp_by_mikabe-d5i2irh

Pengendalian

Cara pencegahan dan pengendaliannya yaitu dengan mengadakan pergiliran tanaman atau menyemprotnya dengan insektisida. Insektisida yang dapat digunakan antara lain Azordin 60 WSC sebanyak 2-3 cc/L air dan volume semprot 400-600 L/ha.

b. Thrips sp.

bercak-daun

Gejala

Daun yang berwarna hijau akan bebercak putih kemudian berubah menjadi kuning dan akhirnya berwarna kecokelatan. Selanjutnya, daun tersebut mengerut, mengeriting dan kerdil.

bercak-daun-7

bercak-daun-9

Penyebab

Gejala penyakit ini disebabkan oleh Thrips sp. Hama ini menyerap cairan tanaman. Serangga dewasa berwarna cokelat kelabu kehitaman dan berukuran 1-1,2 mm. Perkembangbiakannya hanya memerlukan waktu 3-5 minggu mulai dari telur hingga dewasa.

Pengendalian

Pengendalian hama ini antara lain dengan penyemportan insektisida Dicarzol 25 SP dengan dosis 2-4 g/L air, Diazinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/L air, atau Bayrusil 250 EC dengan dosis 2 cc/L air.

2. Hama tomat

Hama yang sering menyerang tomat hidroponik adalah kutu daun (lihat pada hama paprika).

3. Hama sawi

Ulat tritip

Gejala

Daun tampak memutih yang sebenarnya merupakan epidermis atau kulit daun yang tipis. Serangan selanjutnya, daun tersebut akan berlubang dan tinggal tulang daunnya saja.

Penyebab

dbmoth1

Adanya gejala tersebut menandakan tanaman diserang oleh hama Plutella maculipennis atau yang dikenal dengan nama ulat tritip. Ulat ini berwarna hijau pucat bila masih muda dan setelah tua berwarna hijau tua dengan bintik-bintik cokelat. Untuk menghindari sinar matahari, ulat ini sering berada di bawah daun. Bila ada bahaya, ulat tritip menjatuhkan diri dengan membuat benang dahulu. Benang yang bergelayut tersebut melindungi dirinya saat menjadi kepompong. Dari kepompong keluar ngengat. Selanjutnya, ngengat betina akan bertelur sebanyak 180-320 butir dalam satu kali bertelur.

Pengendalian

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memutus daur hidupnya, yaitu dengan cara menanam secara rotasi dengan tanaman yang bukan inangnya (selain sawi, kubis dan lobak). Pemberantasannya dapat dilakukan dengan memakai obor atau lampu teplok. Obor diletakkan di beberapa tempat. Di bawah obor ditempatkan wadah yang berisi air. Karena ngengat hama ini suka akan cahaya maka ngengat tersebut akan mendekati obor sehingga terbakar dan akhirnya jatuh ke dalam wadah.

Pemberantasan juga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang dapat dipergunakan antara lain Diazinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/L air dan volume semprot 400-500 L/ha atau Sevin dengan dosis 1-2 kg/ha.

4. Hama kangkung dan bayam

Tanaman kangkung dan bayam tergolong jarang diserang hama dan penyakit. Hal ini disebabkan umurnya yang pendek (sekitar 25-30 hari), sehingga hama dan penyakit belum sempat berkembang. Namun, ini bukan berarti tidak ada hama dan penyakit yang menyerangnya.

Hama yang sering menyerang tanaman kangkung dan bayam yaitu ulat grayak (Spodoptera litura). Gejala serangan ulat grayak ditandai dengan adanya daun yang berlubang-lubang dan tepi daun bergerigi karena gigitan ulat. Ulat grayak dapat diberantas dengan penyemprotan insektisida Ambush 2 EC, Cymbush 50 EC, atau Diazinon sebanyak 1-2 cc/L air. (hp/yhi)

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *