El Nino Picu Cuaca Panas dan Kekeringan di Asia Tenggara

El Nino Picu Cuaca Panas dan Kekeringan di Asia Tenggara

Kekeringan yang menyebabkan kekurangan air dan cuaca panas ekstrem melanda Asia Tenggara, dipicu oleh El Nino. Beberapa negara di Asia Tenggara mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air, berdampak pada pendidikan dan hasil pertanian warga.

Seperti dikutip CNN, Kamis (12/5), Thailand, Laos dan Kamboja, mengalami panas tertinggi yang pernah dialami negara itu, mencapai 44,6 derajat Celcius, berdasarkan data badan cuaca Weather Underground. Singapura juga demikian, didera temperatur tinggi. Sementara di Malaysia, danau-danau mulai mengering dan hasil pertanian menyusut.
Di Kamboja, kekeringan mempengaruhi pendidikan para siswa. Sumur-sumur kering dan cuaca yang sangat panas membuat siswa kesulitan berangkat ke sekolah. Menurut Hen Seha, guru di provinsi Tboung Khmum, angka ketidakhadiran meningkat 30-40 persen.

“Saya ingin memasang kipas angin, tapi di sekolah kami tidak ada listrik,” kata Seha.

Sementara di Provinsi Kampong Chhnang, penyakit muncul karena banyak siswa yang menggunakan air tergenang untuk keperluan sanitasi atau minum. Mereka menderita penyakit kulit dan berisiko Malaria.

“Bahkan jika mereka menyaringnya sebelum diminum, maka bisa menimbulkan diare dan demam. Jika menggunakannya untuk mandi, kulit mereka iritasi, menjadi kering dan muncul bintik merah,” kata Hun Heng, direktur badan pendidikan setempat.

Pemerintah Kamboja akhirnya mengurangi jam sekolah selama hari-hari panas, namun para guru mengeluhkan tidak adanya dana untuk membeli air.

Sementara itu di Sungai Mekong, yang terpanjang di Asia Tenggara, volume air menyusut ke rekor terendah. Pemerintah Vietnam melaporkan, volume air Mekong terendah sejak 1926. Saat keadaan sungai seperti ini, air dari Laut China Selatan yang mencapai daratan menyebabkan salinisasi atau penggaraman tanah, berdampak para kondisi pertanian.

Thailand, salah satu penghasil beras terbesar dunia, juga memprediksi hasil buruk pertanian akibat cuaca panas dan curah hujan yang minim tahun lalu.

Jika Vietnam dan Thailand gagal panen, maka berdampak pada negara-negara importir beras seperti Filipina dan Indonesia yang akan berujung pada peningkatan harga pangan. Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian Amerika Serikat, Filipina mengimpor 1,9 juta ton beras tahun lalu, sebanyak 53 persennya dari Vietnam dan 5 persen dari Thailand. Pemerintah Indonesia tahun lalu mengatakan akan mengimpor satu juta ton beras dari Vietnam dan meningkatkan impor dari Thailand.

Singapura sudah mulai terkena dampaknya akibat hasil panen sayuran yang diimpor dari Malaysia menurun karena kekeringan. Harga sayuran di Singapura naik 40 persen, berdasarkan laporan media Straits Times. Suhu harian di negara-kota itu mencapai 30,6 derajat Celcius pada April lalu, tertinggi di Singapura.

Di Malaysia, pemerintah harus menjatah pengeluaran air dari bendungan-bendungan besar yang volumenya mulai menyusut. Sebanyak 250 sekolah ditutup bulan lalu akibat cuaca panas, sementara ikan-ikan yang mati telah membusuk di pinggiran sungai yang mengering.

Hewan-hewan juga mati di berbagai tempat. Di Vietnam ditemukan dua bangkai gajah, sementara di Kamboja seekor gajah betina yang biasa dipekerjakan membawa wisatawan di Angkor Wat mati karena kepanasan. Kekeringan menyebabkan kebakaran hutan di Kalimantan, membunuh sedikitnya sembilan orangutan.

Menurut para ahli, kekeringan tahun ini di Asia Tenggara adalah yang terparah dalam puluhan tahun terakhir.

“Kekeringan di Asia Tenggara sangat serius. Ini adalah yang terparah dalam lebih dari 20 tahun,” kata Profesor Jin-Yi Yu dari Departemen Ilmu Sistem Bumi di University of California, AS.

El Nino adalah siklus iklim yang tercipta saat perairan hangat di Samudera Pasifik bergerak jauh ke timur, berbeda dari biasanya, menyebabkan badai di Amerika dan cuaca kering di Asia Tenggara. El Nino tahun ini disebut yang terkuat dalam sejarah.

Sumber

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *