Dare to be a Farmer

“Ibu.. Bagaimana uangnya sudah ada ?”

“Uang untuk apa, A ?”

“Uang untuk ongkos Aa pergi ke Jakarta, Bu. Aa teh mau kerja di Jakarta.”

“Ke Jakarta ? Aa mau kerja apa di Jakarta ?”

“Apa saja, Bu. Yang penting di Jakarta. Biar keren, Buu..”

“Kenapa Aa gak ikut si Abah ka sawah saja ? Bantuin si Abah.”

“Ai si ibu gimana ? Masa Aa disuruh kerja ka sawah sama si Abah. Gengsi atuh, Bu.”

“Kenapa harus gengsi, A ? Gak ada yang salah dengan Aa kerja ke sawah. Kan kerja ke sawah teh halal.”

“Bukan begitu, Bu. Malu atuh sama tatangga. Masa Aa kerja ka sawah, macul, papanasan. Pokoknya lusa Aa mau berangkat ka Jakarta.”

***

Dialog di atas merupakan salah satu contoh fenomena yang sedang terjadi masa kini. Para pemuda desa enggan melanjutkan tongkat estafet orangtuanya untuk menggarap sawah dengan menjadi seorang petani. Di mata mereka, menjadi seorang petani merupakan profesi yang kurang prestise dan tidak menguntungkan.

cimg2055

Sensus pertanian (2013), struktur usia petani didominasi oleh petani tua dengan tingkat pendidikan rendah. Data tersebut menyebutkan, sebanyak 60,8% usia petani di atas 45 tahun dengan 73,97% berpendidikan setingkat SD dan akses terhadap teknologi rendah. Data ini sejalan dengan hasil survei Struktur Ongkos Usaha Tani (SOUT) tanaman pangan pada 2011. Survei itu menyebut, sebagian besar petani tanaman pangan (96,45%) berusia 30 tahun ke atas. Hanya 3,35% saja yang berusia di bawah 30 tahun.

Sebanyak 63% anak petani padi dan 54% anak petani holtikultura tidak ingin menjadi petani. Hal yang mengejutkan juga datang dari sebagian besar petani Indonesia sendiri, mereka menyatakan bahwa tidak menginginkan ‘petani’ sebagai profesi turun temurun kepada anak-anaknya. Fenomena ini sangat disayangkan. Petani masih dianggap sebagai profesi yang tidak menguntungkan bagi sebagian pihak.

doc1-1new

Tidak dipungkiri, hal ini memang memiliki dasar. Hasil pencarian dari mesin pencari ‘google’ untuk kata ‘developing countries’ atau negara berkembang masih cenderung di-identik-an dengan negara pertanian miskin yang berusaha untuk menjadi lebih maju secara ekonomi dan sosial. Dengan kata lain, kata ‘pertanian’ masih identik dengan kata ‘miskin’ alias belum maju. Hal ini menambah rentetan alasan pemuda desa untuk enggan menjadi petani.

Selain itu, kesejahteraan petani Indonesia masih terbilang minim dan kurang mendapatkan perhatian. Paradigma masyarakat Indonesia mengenai pertanian pun masih sempit, mereka cenderung mengkotak-kotakan pertanian sebatas aktivitas menggarap lahan dan menanam tanaman di sawah. Padahal tidak seperti itu. Pertanian itu luas. Perikanan, peternakan, kehutanan, perkebunan, hal itu bisa dibilang pertanian juga, dalam artian luas.

Di luar negeri, tidak sedikit para petani muda yang sukses mengelola lahannya, baik perkebunan, sawah, maupun peternakannya. Mereka tidak malu dan memang sebetulnya tidak perlu untuk malu memiliki profesi sebagai seorang petani. Apalagi dengan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi pertanian juga ikut berkembang ke arah yang lebih maju. Untuk mengikuti perkembangan ini, skill dan pengetahuan petani juga harus ditingkatkan agar bisa bersinergi dengan perkembangan iptek.

Diperlukan suatu upaya untuk mencerdaskan para petani Indonesia, khususnya petani muda sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet pertanian Indonesia. Bukankah selain sebagai ‘negara maritim’, Indonesia juga mendapatkan sebutan sebagai negara agraris. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia harus memegang teguh gelar yang sudah tersemat itu dengan betul-betul berusaha untuk memajukan sektor pertaniannya ke arah yang lebih baik lagi.

cimg2066

Apabila pertanian Indonesia maju, insyaAllah kemandirian pangan Indonesia akan terwujud. Indonesia akan bisa mencukupi kebutuhan pangannya secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan yang berasal dari negara lain. (rm/du)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *