Penentuan Rumah Tanaman dalam Budi Daya Cabai

Penentuan Rumah Tanaman dalam Budi Daya Cabai

Rumah tanaman merupakan bangunan perlindungan tanaman. Istilah ini merupakan terjemahan dari greenhouse. Greenhouse umumnya dibangun menggunakan kaca sebagai atap dinding. Itulah sebabnya greenhouse kemudian identik dengan glasshouse dan diterjemahkan sebagai rumah kaca. Dalam perkembangannya, pengunaan kaca sebagai bahan penutup greenhouse sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan penggunaan plastik. Oleh karena itu, istilah rumah kaca sebagai terjemahan dari greenhouse sudah kurang tepat lagi. Bentuk atap dan orientasi rumah tanaman berpengaruh terhadap iklim mikro di dalam rumah tanaman. Rancangan rumah tanaman yang paling sesuai dan banyak digunakan di kawasan yang beriklim tropis, seperti di Indonesia adalah modified standard peak dengan jumlah bentangan satu atau lebih. Tipe atap tersebut memungkinkan bukaan ventilasi pada bubungan rumah tanaman dapat dibuat dengan mudah dan strukturnya cukup stabil menahan angin yang kencang. Tipe arch dapat saja digunakan, tetapi harus dimodifikasi dengan bukaan pada bubungan rumah tanaman. Untuk atap rumah tanaman yang datar, arah dan sudut kemiringan atap sangat penting. Hal ini menentukan besarnya radiasi matahari yang masuk ke dalam rumah tanaman. Sudut kemiringan atap tersebut menentukan sudut datang radiasi matahari yang menjadi komponen penentu proporsi radiasi matahari yang diteruskan oleh atap rumah tanaman. Di kawasan yang beriklim tropis basah, seperti Indonesia, sering kali screen digunakan untuk menutup seluruh struktur bangunan perlindungan tanaman. Struktur ini disebut screenhouse. Penggunaan screenhouse terutama ditujukan untuk melindungi tanaman dari hama berupa serangga. Berbeda dengan rumah tanaman, struktur screenhouse sangat sederhana. Dinding screen vertikal dan atap screen horizontal. Kerangka screenhouse hanya berupa tiang-tiang dari kayu atau besi untuk menyangga screen. Tinggi tiang tergantung jenis tanaman yang dibudidayakan. Umumnya screenhouse digunakan untuk persemaian tanaman. Walaupun demikian, screenhouse digunakan juga untuk budidaya cabai secara komersial....
Pengendalian Gulma dalam Budi Daya Cabai

Pengendalian Gulma dalam Budi Daya Cabai

Pengendalian gulma dilakukan pada gulma di parit maupun lubang tanam secara rutin. Gulma yang tumbuh di lubang tanam harus segera dibersihkan karena akan berkompetisi dengan tanaman dalam penyerapan hara, air, oksigen, CO2, dan cahaya matahari. Kompetisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terganggu. Gulma yang dapat pula menjadi inang hama dan penyakit tanaman. Gulma dapat menjadi inang hama dan penyakit misalnya babadotan dan putri malu yang merupakan inang penyakit keriting kuning Berikut beberapa kegiatan pengendalian gulma Bersihkan gulma di lubang tanam secara teratur dan sesegera mungkin. Lakukan dengan mencabutnya atau menggunakan alat bantu, seperti kored atau alat pencungkil. Bersihkan gulma di parit dengan menggunakan cangkul atau kored. Bumbun bedengan yang terkikis karena hujan atau penyiraman. Akibat kekurangan air pada tanaman cabai Saat fase vegetatif: pertumbuhan cabang dan daun terganggu, daun berukuran kecil serta pucat. Saat fase generatif: kerontokan bunga, bakal buah, dan buah sehingga menurunkan hasil. Akibat kelebihan air pada tanaman cabai Pada tanaman muda: perakaran membusuk dan berakibat kematian tanaman. Pada tanaman berbunga dan berbuah: bunga dan buah rontok serta meningkatkan perkembangan patogen tanaman yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri, seperti Fusarium, Phytopthora, Colletotrichum, dan Ralstonia. (ms/ry/rd)   Sebelumnya: Pengairan dalam Budi Daya Cabai Selanjutnya: Penentuan Rumah Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...

Pengairan dalam Budi Daya Cabai

Air memegang peranan penting dalam budi daya cabai. Pemberian air secara optimal berdasarkan fase pertumbuhan tanaman akan meningkatkan produktivitas. Air yang cukup akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, luas daun, dan diameter batang, serta meningkatkan jumlah bunga, jumlah buah, bobot buah, diameter buah dan panjang buah. Sebaliknya, kekurangan air atau kelebihan air berpengaruh kurang baik bagi tanaman sehingga akan menurunkan kualitas dan produktivitas hasil. Pengairan dilakukan dengan cara penyiraman menggunakan gembor, irigasi tetes, sistem curah, atau sistem leb. Pengairan dengan sistem leb merupakan cara yang paling praktis terutama di daerah yang memiliki irigasi teknis. Pengairan menggunakan irigasi tetes dilakukan dengan cara mengalikan air melalui selang-selang utama, kemudian membagi air ke setiap tanaman melalui selang sekunder. Pengairan menggunakan sistem curah dikenal sebagai sprinkler irrigation overhead irrigation. Air dipercikkan seperti hujan buatan dengan menggunakan penyemprot bertekanan tinggi. Pengairan yang paling sederhana adalah dengan menggunakan gembor yang mempunyai lubang-lubang kecil pada bagian ujungnya. Namun demikian, cara ini memerlukan banyak waktu dan tenaga. Kegiatan pengairan adalah sebagai berikut. Lakukan penyiraman tanaman setiap hari saat jarang turun hujan. Siram hingga tanah tampak basah. Penyiraman yang berlebihan saat musim hujan akan menyebabkan busuk akar. Jika menggunakan sistem leb, salurkan air melalui jaringan irigasi ke setiap bedengan. Biarkan selama beberapa saat sampai bedengan tampak basah atau mencapai kondisi kapasitas lapang. Atur ketinggian air cukup sampai ujung mulsa. Usahakan lahan tidak becek. Jika air sudah cukup, segera keluarkan melalui saluran drainase (saluran pembuangan). (ms/ry/rd)   Sebelumnya: Pemupukan Susulan Selanjutnya: Pengendalian Gulma Selangkapnya: Panduan Budi Daya...

Pewiwilan (Perempelan) dalam Budi Daya Cabai

Pewiwilan adalah pembuangan tunas air di bawah cabang pertama (dikotomus). Tunas air harus dibuang karena tidak akan produktif dan hanya akan memanfaatkan hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain sehingga mengganggu pertumbuhan cabang lainnya. Tanpa pewiwilan tunas air, pertumbuhan tanaman akan lambat. Perempelan juga dilakukan pada bunga pertama. Bunga pertama akan keluar pada cabang pertama. Tujuan perempelan ini untuk merangsang pertumbuhan tunas dan cabang (pertumbuhan vegetatif). Pada pertanaman cabai di dataran tinggi, perempelan dilakukan hingga bunga kedua. Cara Pewiwilan 1. Buang atau rempel tunas air di bawah percabangan utama (dikotomus) Lakukan pewiwilan secara berkala menggunakan tangan sampai bersih. Jangan menggunakan pisau atau gunting karena dapat menularkan penyakit sistemik seperti keriting akibat virus. 2. Buang atau wiwil bunga pertama Bunga pertama muncul saat berumur 17-21 HST (hari setelah tanam) di dataran rendah dan 25-30 HST di dataran tinggi. Pewiwilan juga dilakukan pada bunga pertama tujuannya untuk merangsang pertumbuhan vegetatif. 3. Buang daun di bawah percabangan utama setelah 75 HST Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan sering kali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Buang juga daun-daun yang terserang hama dan penyakit. 4. Kapan pewiwilan dilakukan? Pewiwilan atau perempelan dilakukan pada pagi hari. (ms/ry/rd)   Sebelumnya: Penyulaman Tanaman Cabai Selanjutnya: Pemupukan Susulan dalam Budi Daya Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya Cabai...

Pemupukan Susulan dalam Budi Daya Cabai

Pemupukan susulan perlu dilakukan agar ketersediaan unsur hara sesuai dengan kebutuhan dan stadia tanaman. Tanaman yang belum berbuah membutuhkan hara N lebih tinggi daripada P dan K. Sementara itu, tanaman berbuah membutuhkan hara P dan K lebih tinggi daripada N. Kegiatan pemupukan susulan adalah sebagai berikut. Lakukan pemupukan kocor menggunakan larutan NPK. Larutkan NPK 15 : 15 : 15 sebanyak 1-2 kg dalam 200 L air atau 1 drum. Kocorkan sebanyak 250 mL atau 1 gelas pada setiap rumpun tanaman. Pengocoran dapat menggunakan alat bantu corong panjang. Lakukan pengocoran setiap minggu. Lakukan pemupukan menggunakan pupuk kandungan N tinggi pada fase vegetatif, baik melalui daun maupun akar. Semprotkan larutan pupuk daun, misalnya Gandasil D, Complesal, atau Vitablom dengan konsentrasi 2 g/L ke daun tanaman setiap 10 hari sampai tanaman berbunga. Berikan juga campuran pupuk NPK 15 : 15 : 15 dan SP-36 dengan perbandingan 2 : 1 sebanyak 8 g per tanaman atau 1 sendok makan di sekitar akar pada 30 HST (hari setelah tanam). Lakukan pemupukan menggunakan pupuk kandungan P dan K tinggi pada fase generatif, baik melalui daun maupun akar. Semprotkan larutan pupuk daun, seperti Gandasil B, Complesal merah, Kemira merah, atau Growmore konsentrasi 2 g/L ke daun tanaman setiap 10 hari. Berikan juga campuran pupuk NPK 15 : 15 : 15, urea, SP-36, dan KCl dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1 sebanyak 4 sendok makan per tanaman pada 50 HST di sekitar akar tanaman. (ms/ry/rd)   Sebelumnya: Pewiwilan (Perempelan) Tanaman Cabai Selanjutnya: Pengairan dalam Budi Daya Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...
Penyulaman Tanaman Cabai

Penyulaman Tanaman Cabai

Penyulaman adalah kegiatan mengganti bibit tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang baik (lambat). Bibit pengganti harus berasal bibit cadangan yang telah disiapkan sebelumnya agar pertumbuhannya relatif sama dengan tanaman lain. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada sore hari agar bibit mudah beradaptasi. Cara penyulaman 1. Cabut bibit yang pertumbuhannya tidak sempurna atau mati Jika kematian karena serangan penyakit, cabut tanaman beserta tanahnya. Biasanya serangan penyakit mulai terlihat pada 3 hari setelah tanam (HST). Buang tanah pada lubang bekas tanaman yang sakit. Selanjutnya berikan larutan fungisida ke dalam lubang tanam, seperti Antracol atau Dithane dengan konsentrasi 2 g/L. Penyakit yang menyerang pada fase ini biasanya adalah rebah kecambah. Setelah itu, biarkan selama beberapa hari. 2. Tanam bibit sehat ke dalam lubang tanam Bibit sehat segera ditanam ke dalam lubang tanam. Selanjutnya, tambahkan tanah baru dan padatkan dengan cara menekan permukaan tanah agar bibit dapat berdiri kokoh. Lakukan penyiraman dengan segera. 3. Kapan penyulaman dilakukan Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur maksimal 2 minggu setelah tanam (MST). (ms/ry/rd)   Sebelumnya: Pengajiran Tanaman Cabai Selanjutnya: Pewiwilan (Perempelan) Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...