Pengendalian Penyakit Daun Keriting Kuning (Begomovirus) pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Daun Keriting Kuning (Begomovirus) pada Tanaman Cabai

Penyakit daun keriting kuning adalah salah satu penyakit menakutkan yang menyerang pertanaman cabai di Indonesia maupun di dunia. Penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi Begomovirus, anggota kelompok Geminivirus. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini ditularkan oleh kutu kebul Bemisia tabaci yang populasinya sangat tinggi saat kemarau. Penyakit ini tergolong baru di Indonesia, tetapi serangannya cukup luas dan sangat merugikan. Gejala yang ditimbulkan berupa daun muda yang tulang daunnya lebih jernih (veinclearing), penebalan tulang daun, dan penggulungan daun. Infeksi lanjut begomovirus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tepi daun melengkung ke atas, ukuran daun mengecil, serta tanaman menjadi kerdil. Kegiatan pengendalian penyakit begomovirus sebagai berikut. Kendalikan gulma, seperti babadotan, puteri malu, kacang tanah hias Arachis pintoi, dan ciplukan yang menjadi inang begomovirus. Cabut tanaman yang terserang penyakit ini sesegera mungkin. Selanjutnya, kumpulkan dan bakar tanaman tersebut. Gunakan varietas toleran, seperti PM 999. Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit ini. Kendalikan hama kutu kebul (vektor virus ini) dengan menyemprotkan larutan Teflubenzuron 50 EC, Permetrin 25 EC, Imidaklropid 200 SL, dan Metidation di bagian bawah daun. (ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi Sebelumnya: Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Bakteri pada Tanaman Cabai Selanjutnya: Pengendalian Penyakit Mosaik Virus pada Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...
Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Bakteri pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Bakteri pada Tanaman Cabai

Penyebab penyakit busuk lunak bakteri ini disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora (Jones) Bergey et al. var. carotovora. Gejala serangan dapat dimulai dari terjadinya bercak lunak berukuran kecil di tempat infeksi, baik di batang, tangkai, kelopak buah, maupun kulit buah. Pembusukan berkembang secara cepat ke seluruh buah. Gejala busuk buah umumnya diawali dengan warna pucat, seperti sengatan matahari. Bagian dalam buah menjadi busuk lunak dan berlendir. Lendir ini dapat keluar dari dalam buah, menguap dalam waktu beberapa hari, seluruh bagian buah menjadi kering, dan hanya tinggal kulit menyerupai kantung. Infeksi bakteri pada buah dapat dipacu oleh gigitan ulat buah sehingga serangan penyakit akan menjadi lebih cepat berkembang. Pengendalian penyakit busuk lunak bakteri sebagai berikut. Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan. Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Segera cuci tangan setelah memegang tanaman sakit. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit. Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang busuk bakteri. Gunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri) sebagai kocoran di sekitar perakaran. Jika serangan sudah berat, semprotkan bakterisida Agrept 20 WP, Bactomycin 15/5, atau Agrimycin. (ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi Sebelumnya: Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cercospora pada Tanaman Cabai Selanjutnya: Pengendalian Penyakit Daun Keriting Kuning (Begomovirus) pada Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...
Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cercospora pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cercospora pada Tanaman Cabai

Penyakit ini disebabkan oleh Cercospora capsici Heald and Wolf. Daun petiolus, bunga, batang, dan pedicil dapat diserang penyakit ini. Serangan yang terjadi pada pedicil dapat menimbulkan malformasi buah, artinya buah tidak dapat berkembang, melainkan kerdil. Bercak daun cercospora dapat menimbulkan defoliasi jika serangan terjadi pada daun. Sementara itu, jika serangan terjadi pada bunga akan terjadi gugur bunga. Bercak daun cercospora berbentuk oblong (bulat) sirkuler dengan bagian tengah berwarna abu-abu tua dan cokelat tua di bagian luarnya. Adapun ukurannya 0.25 cm. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit bintik mata kodok karena bintik tersebut berbentuk mata kodok. Saat berukuran lebih besar, bercak mengering dan retak dan akhirnya bagian yang terserang akan rontok. Pengendalian penyakit bercak daun cercospora sebagai berikut. Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama pada musim hujan. Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Selanjutnya, segera cuci tangan setelah memegang tanaman sakit. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit. Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae atau tanaman inang lainnya. Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misalnya Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP, Topsin M70 WP, Previcur N, Starmyl 25 WP, Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik). Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya. (ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi Sebelumnya: Pengendalian Penyakit Bercak...
Pengendalian Penyakit Bercak Bakteri pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Bercak Bakteri pada Tanaman Cabai

Penyakit bercak bakteri disebabkan oleh Xanthomonas campestris p.v. versicatoria (Doidge) Dye. Bagian tanaman yang terserang yaitu daun, ranting dan buah. Bercak daun awalnya terlihat berukuran kecil berbentuk sirkuler dan timbul bisul yang berwarna hijau pucat. Bagian tengah bisul tersebut ada bagian yang melekuk ke dalam. Bercak untuk daun yang lebih tua berwarna hijau tua dan terjadi busuk basah. Jaringan bagian tengah bercak tersebut dalam waktu beberapa hari akan mati berwarna cokelat. Antara jaringan yang terinfeksi dan yang sehat berwarna kuning. Apabila bercak-bercak cukup banyak, daun akan gugur. Saat curah hujan yang tinggi, gejala dapat terjadi serentak pada seluruh helai daun adalah berwarna kuning, membusuk, akhirnya mengering dan berguguran. Batang atau ranting terjadi kanker berwarna kecokelat-cokelatan. Buah yang terserang terlihat bercak berbentuk sirkuler, retak-retak kasar menyerupai kutil pada permukaan. Kegiatan pengendalian penyakit bercak bakteri sebagai berikut. Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan. Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman  yang sakit. Cuci tangan dengan segera setelah memegang tanaman sakit. Lakukan pergiliran tanaman yang bukan inang bercak bakteri. Gunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri) sebagai kocoran di sekitar perakaran. Jika serangan sudah berat, semprotkan bakterisida Agrept 20 WP, Bactomycin 15/5 atau Agrimycin. (ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi Sebelumnya: Pengendalian Penyakit Hawar Phytopthora pada Tanaman Cabai Selanjutnya: Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cercospora pada Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...
Pengendalian Penyakit Hawar Phytopthora pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Hawar Phytopthora pada Tanaman Cabai

Penyakit hawar phytopthora disebabkan oleh Phytophthora capsici Leoman. Penyakit ini tidak hanya menyebar dan menimbulkan permasalahan tanaman cabai di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Kehilangan hasil akibat gangguan P. capsici di Turki dilaporkan mencapai lebih dari 40%. Kehilangan hasil akibat serangan P. capsici di Meksiko mencapai 60-100%. Di Indonesia, gangguan cendawan ini telah menghancurkan lebih dari 60% areal pertanaman cabai petani di Tegal. Seluruh bagian tanaman dapat terinfeksi oleh penyakit busuk daun tersebut. Serangan pada kecambah dapat menimbulkan kematian tanaman. Pada tanaman yang lebih tua, gejala tampak baik pada batang, daun, maupun buah. Apabila infeksi terjadi pada tanaman yang masih muda, tanaman akan mati. Infeksi batang diawali dari leher batang. Batang yang terserang menderita busuk basah, berwarna hijau, kemudian mengering dan berwarna cokelat. Serangan batang dapat terjadi pada setiap bagian dari batang. Gejala lanjut pada baang ialah terjadinya pengerasan jaringan batang dan seluruh tanaman cabai menjadi layu. Gejala pada daun diawali adanya bercak putih berbentuk sirkuler atau tidak beraturan. Bagian tersebut tampak seperti tersiram air panas. Bercak tersebut kemudian melebar, mengering seperti kertas, dan akhirnya memutih, kadang-kadang diliputi warna putih dan massa spora. Infeksi buah berawal dari batang, kemudian berkembang pada tangkai buah dan berakhir pada buah. Serangan pada buah mengakibatkan buah berwarna hijau tua dan busuk basah. Dalam jangka waktu beberapa hari seluruh buah akan terinfeksi, lalu buah mengering dan keriput. Kegiatan pengendalian penyakit hawar phytopthora adalah sebagai berikut. Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan. Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Setelah memegang tanaman yang sakit, sebaiknya mencuci tangan dan usahakan tidak...
Pengendalian Penyakit Busuk Daun Choanephora pada Tanaman Cabai

Pengendalian Penyakit Busuk Daun Choanephora pada Tanaman Cabai

Penyakit busuk daun choanephora disebabkan oleh Choanephora cucurbitarum Thaxter. Infeksi pertama terjadi pada titik tumbuh, bunga, dan pucuk daun. Selanjutnya, infeksi menyebar ke bagian bawah tanaman. Pucuk daun berubah dari warna hijau menjadi warna cokelat, lalu hitam dan akhirnya membusuk. Busuk ini merambat menuju ke bagian bawah tanaman dan kembali menyerang kuncup daun yang lain sehingga seluruh bagian atas tanaman terkulai. Batang yang terserang penyakit ini menjadi busuk kering dan kulitnya sangat mudah terkelupas. Akhirnya, tanaman akan mati. Dalam kondisi kelembapan tinggi, akan terbentuk bulu-bulu berwarna hitam, yang muncul dari jaringan yang terinfeksi cendawan ini. Kegiatan pengendalian penyakit busuk daun choanephora adalah sebagai berikut. Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan. Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit dan segera mencuci tangan. Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae (terong dan tomat) atau tanaman inang lainnya. Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misalnya Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP, Topsin M750 WP, Previcur N, Starmyl 25 WP, Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik). Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprota, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya. (ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi Sebelumnya: Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai Selanjutnya: Pengendalian Penyakit Hawar Phytopthora pada Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi...