Dinas Ketahanan Pangan Pati Ajak Petani Menuju Pertanian Organik

Tidak dapat dimungkiri bahwa saat ini semakin banyak petani menggunakan pupuk kimia sintetis daripada pupuk organik. Hal ini menyebabkan kondisi tanah menjadi ‘sakit’. Mikroorganisme yang terkandung dalam tanah mati serta unsur hara dalam tanah yang dibutuhkan tanaman semakin berkurang. Selain itu, penggunaan pupuk kimia yang tidak tepat dosisnya dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan siklus hidup tanaman menjadi terganggu. Selain pupuk kimia, penggunaan pestisida kimia juga semakin marak. Dampak buruk dari penggunaan pestisida kimia antara lain residu pestisida yang menempel dan terkandung dalam hasil panen tanaman (buah, sayur) tidak dapat dihilangkan dengan mudah. Sehingga residu pestisida yang terdapat dalam buah dan sayur dapat mengancam kesehatan seperti keracunan bahkan kematian. Melihat kondisi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pati melakukan upaya mengajak petani untuk melakukan budi daya pertanian dengan sistem organik dengan cara melatih petani membuat pupuk organik dan pestisida nabati. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dua tempat yaitu di Desa Ngurensiti, Kec. Wedarijaksa diikuti sebanyak 30 orang dan Desa Kuryo Kalangan, Kec. Gabus diikuti oleh kelompok tani sebanyak 30 orang. Pelatihan tersebut bertujuan untuk melatih petani membuat pupuk organik dan pestisida nabati sendiri. Sehingga nantinya petani dapat menerapkan hasil pelatihan tersebut dalam budi daya pertanian mereka. Pada hari pertama, peserta diberi materi tentang pengetahuan pupuk organik dan pestisida nabati. Sedangkan pada hari kedua, peserta diajari langsung cara membuat pupuk organik dan pestisida nabati oleh narahubungnya yaitu koordinator penyuluh BPK Wedarijaksa dan Koordinator penyuluh BPK Gabus. (hms) Sumber:...

Menristekdikti Resmikan Pusat Bibit Buah Nusantara

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meresmikan pusat bibit buah nusantara yang merupakan pilar ‘Revolusi Oranye’ di Desa Curugrenden, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa, 12 Desember 2017. Revolusi Oranye merupakan program nasional peningkatan daya saing buah nusantara dengan visi mengupayakan kemandirian konsumsi buah nasional, tidak bergantung pada impor, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir besar buah-buahan tropis di Asia Tenggara pada tahun 2025 dan dunia pada tahun 2045. Menteri Nasir berharap, bibit buah unggulan sebaiknya tidak diekspor, melainkan produk dari bibit buah saja yang diekspor. Apabila terlalu banyak ekspor kemungkinan di tahun-tahun mendatang kita bisa menjadi importir negara lain. Selain itu, pentingnya dilakukan standardisasi mutu bibit buah, hal ini agar konsumen di Indonesia bisa melihat buah yang baik. Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe mengatakan bahwa bentuk skema pendanaan inovasi perguruan tinggi di industri ini adalah teaching industry (pembelajaran berorientasi industri), yang merupakan tempat pengembangan produk-produk inovasi dalam skala terbatas, dan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran tentang proses industrialisasi bagi para dosen, mahasiswa dan masyarakat. Ke depannya, di lokasi pusat bibit buah nusantara selain dikembangkan sebagai lokasi program teaching industry dan berbagai bentuk pelatihan, juga akan dikembangkan lebih lanjut dan lebih luas menjadi fruit paradise yang merupakan percontohan orchad buah varietas unggul nasional, dan wahana eduagrotourism berupa wisata pendidikan, pertanian, dan umum. Revolusi Oranye memiliki misi secara konsisten dan terus menerus memproduksi dan menyediakan produk buah nusantara yang berkualitas tinggi, memiliki nilai tambah dan kompetitif untuk pasar domestik dan internasional. Berdasarkan hasil riset strategis pengembangan buah unggulan nasional, Tim Kerja Revolusi Oranye menyimpulkan paling tidak ada enam pilar yang harus...
Pengendalian Kontaminasi pada Budidaya Jamur Tiram

Pengendalian Kontaminasi pada Budidaya Jamur Tiram

Poin ketiga yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi dan mengendalikan kontaminasi pada bibit jamur tiram adalah pengendalian kontaminasi. Pemeriksaan di ruang inkubasi diperlukan untuk pengecekan terjadinya kontaminasi. Apabila ditemukan kontaminan, dengan tanda-tanda ditemukan warna lain pada media atau ada pertumbuhan miselium atau lendir dengan media tanam tidak berubah warnanya menjadi lebih terang, segera diambil sekaligus dengan wadahnya untuk dikeluarkan dari tempat pembuatan bibit. Bibit yang telah terkontaminasi apabila akan dibuang sebaiknya dibuang jauh dari lokasi pembuatan bibit, jangan ditumpuk di dekat lokasi pembuatan bibit. Penumpukan tersebut akan mengakibatkan kontaminan mudah menyebar melalui aliran udara. Apabila yang terkontaminasi dalam jumlah banyak, sebelum dipindahkan/dibuang, ruang inkubasi beserta bibit yang tidak terkontaminasi tersebut dipasteurisasi terlebih dahulu. Pasteurisasi bisa menggunakan uap panas suhu 60⁰C selama empat jam. Setelah bibit dikeluarkan, ruang inkubasi dibersihkan. Diperlukan pula penyemprotan ruang menggunakan disinfektan atau fumigasi menggunakan bahan seperti Na-hipoklorit atau fungisida maupun bakterisida. Na-hipoklorit di rumah tangga sering digunakan sebagai pemutih baju. Pada kejadian kontaminasi yang parah, sebaiknya produksi bibit di tempat tersebut perlu diistirahatkan sampai tiga bulan. Hal ini dimaksudkan untuk memutus kehidupan mikroorganisme kontaminan. (ss) Anda berminat untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram? Silahkan hubungi 0822-9889-1144 untuk informasi lebih lanjut ?   << Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>...
Analisis Usaha Tanaman Hidroponik

Analisis Usaha Tanaman Hidroponik

Walaupun biaya per satuannya lebih besar pengusahaan tanaman sayur hidroponik ternyata cukup menguntungkan. Bahkan, keuntungan yang diraih lebih banyak dibandingkan budidaya biasa di tanah. Di bawah ini diberikan perhitungan analisis usaha dari tanaman tomat yang dihidroponikkan. Dalam analisis tersebut data yang perlu diketahui adalah sebagai berikut. Tomat yang dihidroponikkan adalah varietas TW. Luas lahan yang digunakan 500 m2. Jumlah populasi 1.000 tanaman. Tanaman berbuah pertama kali saat berumur 3 bulan dan dapat dipanen secara terus menerus hingga 6 bulan. Rata-rata total produksi (dari panen pertama sampai terakhir) 5 kg/tanaman. Harga tomat per kg Rp 2.500,00 (tahun 1994). Perhitungan ini tidak termasuk harga tanah/sewa tanah. Analisis Usaha Hidroponik Tanaman Tomat A. Biaya Investasi 1 Greenhouse 500 m2 @Rp 4.000,00 Rp 2.000.000,00 2 Sprayer gendong Rp 75.000,00 3 Peralatan siram dan lain-lain Rp 1.000.000,00 4 Higrometer Rp 25.000,00 5 Termometer Rp 25.000,00 6 Tong untuk sterilisasi Rp 10.000,00 7 Kompor minyak untuk sterilisasi Rp 25.000,00 8 Tempat semai dari papan 1 m2 Rp 5.000,00 + Rp 3.165.000,00 Biaya investasi ini dapat digunakan selama 3 tahun. Dalam 3 tahun tersebut dapat dilakukan penanaman sebanyak 6 kali sehingga biaya untuk sekali tanam adalah Rp 3.165.000,00 : 6 = Rp 527.500,00. 9 Greenhouse semi permanen untuk persemaian 13 m2 @Rp 2.000,00 Rp 26.000,00 10 Polibag untuk tanaman besar 1.000 buah @Rp 50,00 Rp 50.000,00 11 Tali rafia/benang kasur 20 gulung @Rp 500,00 Rp 10.000,00 + Rp 86.000,00 Biaya investasi ini dapat digunakan selama 1 tahun (2 kali tanam) sehingga biaya sekali tanam adalah Rp 86.000,00 : 2 = Rp 43.000,00. Total biaya investasi adalah Rp 527.500,00 + Rp 43.000,00 = Rp 570.500,00.   B....
Pelatihan Budidaya Jamur Tiram 12-13 Januari 2017 di P3JT Daqu Agrotechno

Pelatihan Budidaya Jamur Tiram 12-13 Januari 2017 di P3JT Daqu Agrotechno

Kamis (12/01) dan Jumat (13/01) telah dilaksanakan pelatihan budidaya jamur tiram yang berlokasi di Pusat Pengembangan dan Pelatihan Jamur Tiram (P3JT) Daqu Agrotechno, Puncak, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Program ini bertujuan secara umum agar peserta mampu memahami dan menguasai teknik budidaya jamur tiram, mulai dari mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan jamur tiram, mengetahui dan mempraktekkan secara langsung cara pembuatan media tanam jamur tiram (baglog), packing baglog, pembibitan, pembuatan kumbung, inokulasi, perawatan, dan penanganan pasca panen serta mengetahui potensi pasar jamur, serta analisa bisnis budidaya jamur tiram. Selain itu, peserta diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan dan menjadi mitra dari Daqu Agrotechno sebagai inti plasma. Pelatihan jamur tiram ini merupakan pelatihan yang dirancang agar para peserta bisa belajar sekaligus praktek budidaya jamur tiram secara bertahap, sehingga peserta bisa membudidayakan jamur tiram dengan baik dan benar. Pelatihan ini dipandu oleh sumber daya manusia yang kompeten (lulusan Institut Pertanian Bogor dan praktisi jamur tiram yang sudah berpengalaman). Dengan demikian, harapannya peserta pun dapat segera mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh. Pelatihan budidaya jamur tiram kali ini merupakan pelatihan privat paket lengkap. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan ini adalah 1 orang yang merupakan seseorang yang berniat untuk terjun langsung ke bisnis budidaya jamur tiram. Pelatihan hari pertama berlangsung pada pukul 9.00-16.30 WIB dimulai dengan penyampaian materi tentang basic budidaya jamur, packing baglog, inokulasi, basic pembibitan serta praktek langsung pembuatan media tanam jamur tiram (baglog) di lapangan, praktek pembibitan (inokulasi) di laboratorium inokulasi, dan juga observasi kumbung. Pada saat penyampaian materi diisi juga dengan pemaparan mengenai analisa usaha jamur tiram untuk melihat potensi pasarnya. Hal ini disampaikan di awal penjelasan materi. Hari...

Peralatan dan Bahan untuk Membuat Kultur Murni

Tempat kerja berupa ruangan tertutup dengan aliran udara yang diatur menggunakan filter khusus dan dilengkapi lampu ultraviolet dibutuhkan dalam pembuatan kultur murni. Sebelum digunakan, lampu ultraviolet dinyalakan untuk mensterilkan ruang tersebut. Tempat menanam kultur murni dapat berupa peralatan yang disebut laminar air flow atau yang lebih sederhana berupa enkas. Laminar air flow dilengkapi dengan filter khusus yang berfungsi untuk menyaring udara sehingga udara yang masuk ruang menjadi steril. Sementara enkas hanya berupa kotak kayu yang diberi kaca dengan beberapa lubang dan diberi sarung tangan untuk memasukkan tangan saat bekerja. Seperti halnya laminar air flow, enkas juga dilengkapi dengan lampu ultraviolet untuk mensterilkan ruangan di dalamnya. Prinsip dari kedua alat ini adalah untuk mengurangi kontak dengan udara luar yang banyak mengandung mikroba. Untuk mendapatkan hasil kultur murni yang baik dan tidak terkontaminasi adalah dengan mempersiapkan peralatan dan bahan baku yang selalu dalam kondisi steril. a. Peralatan Berikut ini beberapa peralatan yang digunakan dalam pembuatan kultur murni. 1) Autoklaf Autoklaf adalah alat sterilisasi yang memanfaatkan uap air panas bertekanan tinggi dan biasanya digunakan untuk mensterilisasi peralatan atau bahan kultur yang tahan panas dan tidak rusak oleh panas. Pengaturan tekanan pada autoklaf ada yang otomatis dan manual dengan mengatur pemanasnya yang bisa bersumber dari listrik maupun pemanas kompor gas. Sterilisasi menggunakan autoklaf merupakan cara yang paling baik karena uap air panas dengan tekanan tinggi menyebabkan penetrasi uap air ke dalam sel-sel mikroba menjadi optimal sehingga langsung mematikan mikroba. Cara mengoperasikan autoklaf: Isi tempat air dengan air sampai dekat angsang (dasar tempat untuk meletakkan alat-alat yang akan disterilkan) di dalam bejana. Bungkus terlebih dahulu peralatan ataupun bahan kultur yang akan disterilkan menggunakan kertas...