Budidaya Ikan Lele dengan Sistem Bioflok

Budidaya Ikan Lele dengan Sistem Bioflok

Ikan lele termasuk dalam golongan ikan yang tahan terhadap segala jenis air, meskipun demikian budidaya ikan lele apabila dilakukan tanpa perlakuan khusus bisa dipastikan tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, segala cara dilakukan agar terjadi peningkatan produksi, salah satunya adalah dengan menggunakan sistem bioflok.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), mendorong penyebaran teknologi bioflok untuk budidaya lele. Hal ini dikarenakan budidaya lele dengan menggunakan sistem bioflok telah terbukti mendorong peningkatan produksi.

Mengutip perkataan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat melakukan penebaran benih lele sebagai tanda dimulainya percontohan budidaya lele sistem bioflok di Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang,

“Teknologi bioflok telah terbukti meningkatkan produksi lele di lahan yang terbatas. Di samping itu, budidaya lele menjadi lebih ramah lingkungan, hemat dalam penggunaan air dan pakan serta dapat dilakukan di lahan yang terbatas.”

Selain itu, budidaya lele dengan sistem bioflok ini efektif dan mampu mendongkrak produktivitas lahan.

“Sebagai gambaran, satu lubang atau satu kolam bioflok dengan kapasitas air 10 m3, dengan modal kurang lebih Rp 5 juta, dapat dipanen lele kurang lebih sebanyak 1 ton secara parsial selama kurun waktu 2,5 bulan. Apabila harga lele konsumsi adalah Rp 15.000,-/kg, akan dapat diperoleh hasil kurang lebih Rp 15 juta. Jadi, pembudidaya akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp 10 juta, selama kurun waktu 2,5 bulan untuk wadah satu lubang,” jelas Slamet.

Lebih lanjut dikatakan bahwa produksi lele secara nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2011-2015) mengalami peningkatan 21,31% per tahun. Dari 337.577 ton pada 2011 menjadi 722.623 ton di 2015. Peningkatan produksi lele per tahun yang mencapai 21,31% ini merupakan kenaikan terbesar dibandingkan dengan komoditas air tawar lainnya seperti nila, mas, patin, dan gurami. Ini juga menjadi bukti bahwa pemanfaatan teknologi ramah lingkungan serta efisien mampu meningkatkan produksi ikan.

Cianjur-Suasana nan asri di Laboratorium Perikanan Daqu Agrotechno, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.

Cianjur-Suasana nan asri di Laboratorium Perikanan Daqu Agrotechno, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.

Lalu, sebetulnya seperti apa gambaran budidaya ikan lele dengan sistem bioflok ?

Budidaya ikan lele sistem bioflok adalah suatu sistem pemeliharaan ikan dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah budidaya itu sendiri menjadi gumpalan-gumpalan kecil (floc) yang bermanfaat sebagai makanan alami ikan. Pertumbuhan mikroorganisme dipacu dengan cara memberikan kultur bakteri non patogen (probiotik), dan pemasangan aerator yang akan menyuplai oksigen sekaligus mengaduk air kolam.

Sistem bioflok ini dinilai efektif dan mampu mendongkrak produktivitas karena dalam kolam yang sempit dapat diproduksi ikan lele yang lebih banyak, biaya produksi berkurang dan waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan budidaya secara konvensional.

Sistem bioflok ini sebenarnya sudah lebih dulu dikembangkan di negara-negara maju seperti Jepang, Brasil, Australia, dll. Namun demikian, di negara kita, Indonesia, pada tahun ini sudah banyak juga yang mengadopsi sistem bioflok. Selain ikan lele, sistem ini dapat juga dikembangkan untuk budidaya udang air tawar.

Nah.. Apakah Anda tertarik untuk mencobanya ?

Semoga bermanfaat.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *