Pengendalian Penyakit Diare Pada Domba

Penyakit pada domba dikelompokkan menjadi penyakit menular dan penyakit tidak menular.  Beberapa contoh penyakit menular yang kerap menyerang domba adalah penyakit mulut dan kuku, diare, dan kudis.  Sementara penyakit yang tidak menular adalah kembung (bloat). Diare merupakan jenis penyakit yang sering melanda peternakan domba.  Jenis penyakit ini  memang tidak  mematikan, tetapi pada tingkat yang parah, bisa menyebabkan penyusutan bobot badan pada domba yang terserang.  Penyebab diare antara lain bakteri Escherichia coli dan Clostridium perfringens.  Toksin alfa dan beta dan Clostridium perfringens juga sering menjadi pemicu terjadinya serangan diare pada domba.  Domba yang mengalami diare ditandai dengan bentuk fesesnya yang encer.  Pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengobati diare adalah dengan memberi antibiotik dan vitamin. (EP, dkk). Sumber : Buku “Usaha Penggembukkan Domba” Penulis  : Endang Purbowati & Tim Penulis Mitra Tani    ...
Pemeliharaan Tanaman Cabai di Pot

Pemeliharaan Tanaman Cabai di Pot

Secara umum kegiatan pemeliharaan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman untuk tanaman di pot sama dengan di lahan. Kegiatan pemupukan susulan di pot adalah sebagai berikut. Larutkan NPK 15 : 15 : 15 sebanyak 5 sendok makan ditambah 1 sendok makan pupuk daun, seperti Gandasil D (fase vegetatif) atau Gandasil B (fase generatif) dalam 10 L air atau 1 ember besar. Kocorkan sebanyak 250 mL atau 1 gelas setiap rumpun tanaman. Berikan pupuk kocor tersebut setiap minggu. Semprotkan pupuk daun, seperti Gandasil D pada fase vegetatif dan Gandasil B pada fase generatif dengan konsentrasi 2 g/L setiap minggu. Berikan pupuk daun tersebut 3 hari setelah pemberian pupuk kocor.(ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi   Sebelumnya: Waktu dan Cara Menanam Cabai di Pot Selanjutnya: Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Cabai Selangkapnya: Panduan Budi Daya...

Cara Tanam, Pemeliharaan dan Pemanenan Sayur Pare

Tanaman pare cocok ditanam di dataran rendah, seperti di tegalan maupun di pekarangan.  Jika ditanam di dataran tinggi, biasanya buah berukuran kecil dan pertumbuhan buahnya kurang normal. Syaratan tumbuh tanaman antara lain tanahnya gembur, banyak mengandung humus, dan pH antara 5-6.  Tanaman tidak memerlukan banyak sinar matahari sehingga dapat tumbuh di tempat yang agak teduh atau ternaungi.  Waktu tanam yang baik pada awal musim hujan atau awal musim kemarau. Cara Tanam Pare dikembangbiakkan dengan biji.  Jika pare ditanam dengan model para-para, lahan tidak perlu dicangkul, tetapi langsung dibuat lubang asalkan gulmanya tidak banyak.  Lubang tanam dibuat berukuran 30 cm x 20 cm.  Jarak antarlubang diatur 60 cm dan jarak antarbaris 200 cm.  Setiap lubang diisi pupuk kandang atau kompos matang sebanyak 1 kg yang dicampur dengan au kapur.  Setiap lubang ditanmi 2-3 pare.  Biji dapat tumbuh setelah 4-7 hari.  Para-para setinggi 1-1,5 m dibuat jika tinggi tanaman sudah mencapai 50 cm.  Pembuatan para-para dapat pula diganti dengan ajir atau tiang lanjaran. Agar diperoleh hasil yang memuaskan sebaiknya pupuk buatan diberikan pada tanaman.  Pupuk buatan tersebut berupa Urea, TSP, dan KCI dengan perbandingan 1 : 2 : 2 sebanyak 15 g tiap tanaman ( 3 g Urea, 6 g TSP, 6 g KCI).  Pupuk diletakkan di sekeliling tanaman sejauh 10 cm dari batangnya.  Sebaiknya pupuk diberikan saat tanaman berumur satu bulan dan bersamaan dengan penyiangan.  Setelah berumur 1,5 – 2 bulan, tanaman mulai berbunga betina yang biasanya dapat menjadi buah. Pemeliharaan tanaman Perawatan tanaman cukup dengan membuang gulma di sekeliling tanaman dan mencegah buah dari serangan hama.  Pencegahan hama dilakukan dengan pembungkusan buah muda menggunakkan kertas arau daun pisang kering. ...

Mengenal Pare dan Jenisnya

Pare memang punya penampilan tidak elok dan rasanya yang pahit.  Meskipun demikian, pare memiliki khasiat yang baik untuk tubuh dan termasuk tanaman yang mudah ditemui.  Pare juga menjadi salah satu bahan pelengkap dalam menu jajanan siomay. Pare (Momordica charantia L.) termasuk famili Cucurbitaceae.  Tanaman biasa dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai sayuran maupun bahan pengobatan.  Jenis-jenis pare yang terkenal adalah pare putih dan pare hijau. (HS/FAN) Pare Putih Bentuk buah bulat panjang, besar, dan berwarna putih Permukaan kulit buahnya terdapat bintil-bintil seperti jerawat. Jenis inilah yang sangat digemari karena rasanya tidak begitu pahit. Pare Hijau Pare hijau buahnya lonjong, kecil, dan berwarna hijau. Permukaan kulit buahnya berbintil -bintil agak halus dan rasanya pahit. Sumber : Buku “Bertanam Sayuran Buah 20 Sayuran Komersial” Penulis  : Hendro Sunarjono dan Febriani Ai Nurrohmah   Artikel Sebelumnya         : Kandungan Vitamin dan Manfaat Mentimun Artikel Selengkapnya      : Bertanam Sayuran Buah  ...
Waktu dan Cara Menanam Cabai di Pot

Waktu dan Cara Menanam Cabai di Pot

Penanaman cabai dalam pot di pekarangan tidak tergantung waktu dan musim. Pengaturan waktu tanam didasarkan pada siklus dan manajemen pemanenan. Jika menginginkan pemanenan setiap hari sepanjang masa, perlu dilakukan pengaturan waktu tanam. Berikut cara penanaman bibit cabai di pot. Lakukan penanaman di pagi hari sebelum pukul 900 atau sore hari setelah pukul 15.30 untuk menghindari tanaman stres. Hindari menanam pada siang hari. Lakukan seleksi bibit. Gunakan bibit yang telah berumur 5-6 MST (minggu setelah tanam) atau memiliki 6 helai daun, dalam keadaan sehat, normal, dan vigor. Cabut bibit dengan hati-hati dari tray semai yang media semainya cukup kering. Jika bibit disemai di polibag, ambil polibag berisi bibit, lalu balikkan dengan pangkal batang bibit dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Tepuk bagian dasar polibag secara perlahan dan hati-hati agar bibit keluar bersama akar dan medianya. Usahakan media tanam tidak terbongkar untuk mencegah kerusakan akar. Siram media tanam dalam pot sebelum penanaman dan gunakan kayu atau bambu kecil untuk membuat lubang tanam. Selanjutnya, tanam bibit di lubang tersebut dan padatkan dengan ujung jari. Siram lubang yang telah ditanam bibit dengan larutan fungisida (misalnya Antracol atau Dithane dengan konsentrasi 1 g/L) untuk mencegah serangan cendawan. Selain itu, semprotkan larutan pupuk daun Gandasil 2 g/L sebanyak 250 ml per tanaman. Kegiatan pemupukan susulan di pot sedikit berbeda dengan pemupukan di lahan. Pemupukan susulan di pot dilakukan setiap minggu dengan dosis yang lebih rendah. Sebaiknya digunakan pupuk kocor. (ms/ry/rd)   Sumber: Buku “Budidaya Cabai Panen Setiap Hari” Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhamad Syukur, SP, MSi, Dr. Rahmi Yunianti, SP, MSi dan Rahmansyah Dermawan, SP, MSi   Sebelumnya: Penyiapan Media Tanam untuk Bertanam Cabai...