Asuransi Pertanian Tambah 2.000 Hektare

Asuransi Pertanian Tambah 2.000 Hektare

Program asuransi pertanian yang digulirkan pemerintah mulai menyita perhatian para petani. Hal itu terlihat dari banyaknya lahan yang didaftarkan asuransi. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), perusahaan yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program tersebut optimistis target tambahan 2000-an hektar lahan bakal tercapai.

”Jadwal tanamnya memang berbeda-beda tiap daerah. Nah, di Kabupaten Malang lebih lambat dibandingkan daerah lain, seperti Pasuruan misalnya,” terang Kepala Kantor Jasindo Cabang Malang, Umam Tauvik, Rabu (25/5). Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40 Tahun 2015 tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian, program asuransi tersebut memang berlaku untuk satu kali masa panen. Premi yang harus dibayarkan petani juga berlaku pada masa itu.

Premi selanjutnya harus dibayarkan sebelum petani melakukan penanaman padi lagi. Diperkirakan Umam, akhir Juni nanti menjadi masa pendaftaran terakhir masa panen terbaru. ”Akhir Juni kita perkirakan ada tambahan 2.000 hektare lahan yang didaftarkan asuransi pertanian,” tambah dia. Optimisme itu muncul setelah pihaknya gencar melakukan sosialisasi yang dilakukan sekitar dua pekan terakhir.

Bila terealisasi, itu bakal menambah jumlah lahan sawah yang ter-cover asuransi pertanian. ”Kalau yang sudah daftar sebelumnya ada sekitar 2.500 hektar. Kemungkinan besar ikut asuransi lagi,” tambah Umam. Bila ancang-ancang perhitungan itu terealisasi, ada 4.500 hektare lahan sawah di Kabupaten Malang yang diikutkan asuransi.

Jumlah tersebut jauh meningkat jika dibandingkan masa panen sebelumnya. Hanya saja angka tersebut masih jauh dari total lahan sawah di Kabupaten Malang yang mencapai 45.888,23 hektare. Umam sadar, asuransi pertanian memang tak bisa meng-cover seluruh lahan tersebut. Dasarnya, ia mengacu pada beberapa ketentuan. Seperti kewajiban petani tergabung dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Luas lahan pertanian yang juga ditentukan. Maksimal per orang hanya 2 hektare saja. Bila sanggup memenuhi kriteria itu, beberapa keuntungan bisa didapatkan petani.

Total, ada premi sebesar Rp 180 ribu per satu hektare lahan yang harus dibayarkan. Namun karena mendapat subsidi pemerintah pusat sebesar 80 persen, premi yang dibayarkan per satu masa panen hanya Rp 36 ribu saja. Bila terjadi gagal panen, klain asuransi sebesar Rp 6 juta bisa didapatkan petani.

Namun iming-iming itu nampaknya masih belum cukup membuat petani tertarik. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto menyatakan, ada ketentuan yang janggal pada luasan lahan pertanian yang ter-cover asuransi. Karena di dalamnya tidak mengandalkan sawah tadah hujan dan pagi gogo. Asuransi hanya meng-cover lahan pertanian produktif saja.

Sumber

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *