Analisis Usaha Tanaman Hidroponik

Analisis Usaha Tanaman Hidroponik

Walaupun biaya per satuannya lebih besar pengusahaan tanaman sayur hidroponik ternyata cukup menguntungkan. Bahkan, keuntungan yang diraih lebih banyak dibandingkan budidaya biasa di tanah.

Di bawah ini diberikan perhitungan analisis usaha dari tanaman tomat yang dihidroponikkan. Dalam analisis tersebut data yang perlu diketahui adalah sebagai berikut.

  1. Tomat yang dihidroponikkan adalah varietas TW.
  2. Luas lahan yang digunakan 500 m2.
  3. Jumlah populasi 1.000 tanaman.
  4. Tanaman berbuah pertama kali saat berumur 3 bulan dan dapat dipanen secara terus menerus hingga 6 bulan.
  5. Rata-rata total produksi (dari panen pertama sampai terakhir) 5 kg/tanaman.
  6. Harga tomat per kg Rp 2.500,00 (tahun 1994).
  7. Perhitungan ini tidak termasuk harga tanah/sewa tanah.

Analisis Usaha Hidroponik Tanaman Tomat

A. Biaya Investasi

1 Greenhouse 500 m2 @Rp 4.000,00 Rp 2.000.000,00
2 Sprayer gendong Rp 75.000,00
3 Peralatan siram dan lain-lain Rp 1.000.000,00
4 Higrometer Rp 25.000,00
5 Termometer Rp 25.000,00
6 Tong untuk sterilisasi Rp 10.000,00
7 Kompor minyak untuk sterilisasi Rp 25.000,00
8 Tempat semai dari papan 1 m2 Rp 5.000,00 +
Rp 3.165.000,00

Biaya investasi ini dapat digunakan selama 3 tahun. Dalam 3 tahun tersebut dapat dilakukan penanaman sebanyak 6 kali sehingga biaya untuk sekali tanam adalah Rp 3.165.000,00 : 6 = Rp 527.500,00.

9 Greenhouse semi permanen untuk persemaian 13 m2 @Rp 2.000,00 Rp 26.000,00
10 Polibag untuk tanaman besar 1.000 buah @Rp 50,00 Rp 50.000,00
11 Tali rafia/benang kasur 20 gulung @Rp 500,00 Rp 10.000,00 +
Rp 86.000,00

Biaya investasi ini dapat digunakan selama 1 tahun (2 kali tanam) sehingga biaya sekali tanam adalah Rp 86.000,00 : 2 = Rp 43.000,00.

Total biaya investasi adalah Rp 527.500,00 + Rp 43.000,00 = Rp 570.500,00.

 

B. Biaya Bahan Baku

1 Minyak tanah 15 L @Rp 300,00 Rp 4.500,00
2 Arang sekam 5 m3 @Rp 10.000,00 Rp 50.000,00
3 Pasir kali 1 m3 Rp 20.000,00
4 Pupuk kandang 1 m3 Rp 40.000,00
5 Humus 1 m3 Rp 40.000,00
6 Polibag untuk bibit 1.100 buah @Rp 3.500,00/110 polibag Rp 35.000,00
7 Benih 40 g @Rp 500,00 Rp 20.000,00
8 Larutan hara Rp 1.800,00/tanaman Rp 1.800.000,00
9 Pupuk daun Rp 200.000,00
10 Pestisida Rp 50.000,00 +
Rp 2.259.500,00

 

C. Biaya Tenaga Kerja

1 Sterilisasi 2 HOK @Rp 2.500,00 Rp 5.000,00
2 Penyemaian dan pembibitan 4 HOK Rp 10.000,00
3 Pengisian media ke polibag 10 HOK Rp 25.000,00
4 Penanaman 30 HOK Rp 75.000,00
5 Perawatan rutin 40 HOK Rp 100.500,00
6 Pemasangan tali 20 HOK Rp 50.000,00
7 Pemangkasan 10 HOK Rp 25.000,00
8 Pengawinan 10 HOK Rp 25.000,00
9 Penyeleksi buah 10 HOK Rp 25.000,00
10 Panen dan pascapanen 30 HOK Rp 75.000,00
11 Pengawas 1 orang (6 bulan) Rp 950.000,00
12 Supervisi 1 orang (6 bulan) Rp 1.800.000,00 +
Rp 3.115.500,00

 

Total biaya produksi (A + B + C) = Rp 5.945.500,00

 

D. Biaya Tak Terduga

10% x Rp 5.945.500,00 = Rp 594.550,00

 

Biaya produksi + biaya tak terduga Rp 6.540.050,00

 

E. Produksi

1.000 tanaman x 5 kg x Rp 2.500,00 = Rp 12.500.000,00
Biaya risiko hasil panen 5% Rp 625.000,00 _
Rp 11.875.000,00

 

F. Keuntungan yang Diperoleh

Rp 11.875.000,00 – Rp 6.540.050,00 = Rp 5.334.950,00

Keuntungan Rp 5.334.950,00 merupakan keuntungan selama 6 bulan. Apabila dihitung per bulannya maka diperoleh keuntungan sebesar Rp 889.750,33.

Dalam analisis ini akan lebih baik dihitung juga break even point (BEP), ROI, dan B/C untuk mengetahui kelayakannya.

1. Break even point (BEP)

Break even poin merupakan titik impas. Pada titik tersebut, usaha tidak untung dan tidak rugi. Untuk menghitungnya digunakan rumus:

BEP = Biaya tetap
1 – Biaya variabel
Hasil penjualan

 

BEP = Rp 570.500,00
1 – Rp 5.375.000,00
Rp 11.875.000,00
= Rp 1.042.259,40

 

Hasil yang diperoleh tersebut berarti usaha akan impas pada hasil penjualan sebesar Rp 1.042.259,40.

Dari angka tersebut dapat diketahui juga harga penjualan minimal dan jumlah produksi minimalnya. Harga penjualan minimal dapat diketahui dengan membagi BEP dengan jumlah produksi. Bila produksinya 5 kg/tanaman dan jumlah tanaman 1.000 maka harga penjualan minimal Rp 1.042.259,40 / (5 x 1.000) = Rp 208,45. Bila harga jualnya Rp 2.500,00 maka jumlah produksi minimalnya Rp 1.042.259,40 / Rp 2.500,00 = 416,90 untuk 1.000 tanaman, atau per tanamannya menghasilkan 0,42 kg.

Berdasarkan data di atas berarti bila ingin mendapatkan keuntungan, harga jual harus di atas Rp 208,45 per kg untuk produksi 5.000 kg. Atau dengan jumlah produksi di atas 0,42 kg/tanaman bila harga jualnya Rp 2.500,00 per kg.

2. Return of Investmen (ROI)

ROI = Hasil penjualan / total biaya produksi
= Rp 11.875.000,00 / Rp 6.540.050,00
= 1,82

Hasil ROI sebesar 1,82 mempunyai arti, dari uang yang diinvestasikan sebesar Rp 1,00 akan kembali atau menghasilkan Rp 1,82.

3. Benefit Cost Ratio (B/C)

B/C = Keuntungan / total biaya
= Rp 5.334.950,00 / Rp 6.540.050,00
= 0,82

Hasil B/C sebesar 0,82 mempunyai arti: dari uang yang diinvestasikan sebesar Rp 1,00 akan didapat keuntungan Rp 0,82. (hp/yhi)

 

<< Bab Sebelumnya. Bab Selanjutnya >>

Selengkapnya

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *